Lompat ke konten
Ambaja.
Perbandingan · Drone Mapping

DJI Phantom 4 RTK vs YellowScan — Drone Mapping

Dua platform pemetaan udara yang sering dianggap setara, padahal berbeda kelas. DJI Phantom 4 RTK adalah drone kamera RGB untuk fotogrametri — murah, cepat, dan ideal untuk lahan terbuka. YellowScan adalah payload LiDAR yang menembakkan laser dan menembus celah vegetasi untuk merekam tanah asli. Panduan ini membedah akurasi, biaya per hektar, coverage, dan deliverable agar Anda memilih platform yang tepat untuk proyek di Jabodetabek. Angka akurasi di bawah dicapai dengan GCP; tarif mulai per hektar belum termasuk PPN 11% (GCP LiDAR dihitung terpisah).

Akurasi Phantom (V, terbuka)
3–5 cm
Akurasi YellowScan (V)
5–10 cm
Mulai Fotogrametri/ha
Rp 500rb
Mulai LiDAR/ha
Rp 1 jt

Dasar keputusan dan batas sumber

Sebelum membaca perbandingan platform UAV ini, Permenhub PM 37 Tahun 2020 menjadi baseline untuk menilai kelayakan operasi pemetaan udara.

  • Permenhub PM 37 Tahun 2020

    Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Dasar regulasi untuk menilai kelayakan operasi UAV dalam pekerjaan pemetaan udara. Termasuk pengoperasian di controlled airspace dengan persetujuan Direktur Jenderal, uncontrolled airspace sampai 400 kaki (120 m) tanpa persetujuan dan di atasnya dengan persetujuan (butir 2.1.1), persetujuan untuk KKOP bandar udara dan radius 3 NM dari helipad di luar KKOP (butir 2.2.2), persetujuan instansi berwenang di kawasan terlarang dan terbatas (butir 2.3), prioritas di wilayah bukan permukiman, operasi pada siang hari dan malam hari hanya dengan persetujuan (butir 3.5–3.7), koordinasi dengan unit pelayanan navigasi penerbangan paling lambat 24 jam sebelum pengoperasian, permohonan persetujuan paling lambat 14 hari kerja sebelum pengoperasian (butir 4.3), serta Security Clearance untuk survei udara, pemetaan, atau foto udara di wilayah tertentu dan persetujuan pihak berwenang untuk pemotretan atau pemfilman (butir 4.13). Juga: koordinasi 24 jam dengan unit pelayanan navigasi penerbangan tercantum di butir 3.12, dan operasi malam memerlukan persetujuan Direktur Jenderal melalui safety assessment (butir 3.7). Untuk pemotretan, pemfilman, atau pemetaan, permohonan dilampiri surat dari institusi yang berwenang dan/atau pemilik objek di wilayah yang akan dipotret, difilmkan, atau dipetakan (butir 4.5 huruf j), serta dokumen asuransi sebagai jaminan operator atas kerugian pihak ketiga akibat kegagalan pengoperasian (butir 4.5 huruf m dan butir 4.6). Permohonan perubahan waktu diajukan paling lambat 7 hari kerja sebelum hari pelaksanaan yang baru (butir 4.9), perubahan area atau ketinggian mengikuti tata cara pengajuan persetujuan baru (butir 4.10), dan NOTAM disiapkan serta dipublikasikan setelah persetujuan terbit (butir 4.12).

Sumber regulasi ini tidak memverifikasi spesifikasi produk DJI atau YellowScan; periksa datasheet resmi yang berlaku sebelum membandingkan perangkat.

Analisis lengkap:DJI Phantom RTK vs YellowScan vs Riegl LiDAR — artikel pillar 3-arah yang menambahkan kelas Riegl ke perbandingan.

Ringkasan Eksekutif

Dua Kelas Drone, Dua Filosofi Pemetaan

Pertanyaan “pemetaan lahan saya cukup pakai DJI Phantom, atau harus pakai jasa LiDAR YellowScan?” menentukan akurasi, biaya, dan kelayakan deliverable Anda. Keduanya terbang di langit yang sama dan sama-sama menghasilkan data 3D ter-georeferensi, tetapi mewakili dua kelas teknologi yang berbeda. DJI Phantom 4 RTK adalah drone kamera yang memotret dan merekonstruksi 3D dari overlap foto (fotogrametri); YellowScan Voyager adalah sensor LiDAR yang menembakkan laser dan merekam point cloud langsung.

Perbedaan kelas ini melahirkan tiga konsekuensi besar yang akan kita bedah: akurasi vertikal (di lahan terbuka Phantom 4 RTK ±3–5 cm, YellowScan ±5–10 cm, keduanya dengan GCP), kemampuan menembus vegetasi (Phantom tidak, YellowScan ya), dan biaya per hektar (fotogrametri mulai Rp 500.000, LiDAR mulai Rp 1.000.000 per hektar, belum termasuk PPN 11%). Memahami ketiganya membuat Anda tidak overspend pada LiDAR untuk lahan terbuka, atau gagal mendapat tanah asli karena memaksakan Phantom di area berhutan.

Angka spesifikasi di halaman ini konsisten dengan data layanan Ambaja dan rentang tipikal pasar drone mapping per 2026. Tarif adalah harga mulai (starting price) untuk wilayah Jabodetabek, Karawang, dan Cikarang — harga final tergantung luas, akses, dan kerapatan vegetasi lahan Anda. Nama produk DJI Phantom 4 RTK dan YellowScan disebut sebagai representasi kelas alat; konfigurasi aktual di lapangan dapat menggunakan model setara dari ekosistem yang sama.

Bagian 1 · Pengenalan Platform

Kenali Cara Kerja Masing-Masing

DJI Phantom 4 RTK (Fotogrametri)

Drone kamera ringkas dengan modul RTK terintegrasi. Ia memotret ratusan foto beresolusi tinggi dengan overlap 70–80%, lalu perangkat lunak Structure-from-Motion merekonstruksi geometri 3D dari titik-titik yang muncul di banyak foto. Modul RTK menyatukan koreksi GNSS presisi ke tiap foto, sehingga akurasi horizontal kuat tanpa banyak Ground Control Point. Karena berbasis kamera, ia hanya merekam permukaan teratas yang terlihat.

  • Prinsip: Structure-from-Motion (foto overlap)
  • Output: foto + ortofoto + 3D mesh
  • Akurasi vertikal: ±3–5 cm (lahan terbuka, dengan GCP)
  • Tembus vegetasi: tidak (top of canopy)

YellowScan Voyager (LiDAR)

Payload Light Detection and Ranging yang dipasang pada drone pembawa heavy-lift (Voyager berbobot 3,5 kg, di atas muatan DJI M300/M350). Ia menembakkan hingga 2,4 juta pulse laser per detik dan mengukur waktu pantul (time-of-flight). Karena satu pulse bisa memantul berkali-kali (multi-return), LiDAR merekam tidak hanya kanopi tetapi juga tanah di bawahnya — inilah kunci penetrasi vegetasi. IMU + GNSS internal menjaga geo-referencing tetap presisi.

  • Prinsip: time-of-flight pulse laser
  • Output: point cloud LAS/LAZ + DTM/DSM
  • Akurasi vertikal: ±5–10 cm (dengan GCP, termasuk di bawah vegetasi)
  • Tembus vegetasi: ya (multi-return)
Bagian 2 · Tabel Komparasi

Side-by-Side: DJI Phantom 4 RTK (Photogrammetry) vs YellowScan Voyager (LiDAR)

Tabel ini adalah inti komparasi — tipe data, akurasi vertikal, penetrasi vegetasi, coverage per hari, dan biaya per hektar mengacu pada spesifikasi layanan Ambaja per 2026. Biaya adalah harga mulai (sudah termasuk operator + processing dasar; GCP untuk LiDAR dihitung terpisah), belum termasuk PPN 11%; harga final tergantung luas, akses, dan kondisi vegetasi lahan.

AspekDJI Phantom 4 RTK (Photogrammetry)YellowScan Voyager (LiDAR)
Tipe data
Foto + ortofotoPoint cloud LAS/LAZ
Akurasi vertikal (dengan GCP)
3-5 cm di permukaan terbuka5-10 cm, termasuk tanah di bawah vegetasi
Tembus vegetasi
TidakYa (multi-return)
Coverage per hari kerja
~80 hektar~50 hektar
Biaya jasa per hektar
Mulai Rp 500.000Mulai Rp 1.000.000

Akurasi vertikal di tabel adalah RMSE terhadap titik cek independen pada tinggi terbang tipikal dengan GCP memadai; angka fotogrametri hanya berlaku di permukaan terbuka. Tanpa Ground Control Point, akurasi absolut kedua platform dapat degradasi puluhan sentimeter — selalu pasang minimal 4–6 GCP untuk deliverable yang dipakai perizinan atau konstruksi.

Bagian 3 · Analisis Mendalam

4 Pembeda Utama yang Menentukan Pilihan

1

Penetrasi Vegetasi — Pembeda Paling Tegas

Faktor inilah yang langsung mengeliminasi salah satu platform. YellowScan menembus celah dedaunan lewat multi-return: satu pulse laser memantul dari daun, lalu ranting, lalu tanah, sehingga model terrain (DTM) tanah asli bisa dipisahkan dari model permukaan (DSM) kanopi. DJI Phantom 4 RTK tidak bisa melakukan ini — kameranya hanya merekam apa yang terlihat, yaitu top of canopy. Di lahan berhutan, sawit dewasa, atau semak rapat, hasil Phantom adalah model daun, bukan tanah. Untuk forestry dan lahan bervegetasi tebal, YellowScan bukan sekadar lebih baik, tapi satu-satunya yang memberi data tanah yang benar.

2

Akurasi Vertikal — Krusial untuk Cut & Fill dan Drainase

Di lahan terbuka, keduanya sama-sama di level sentimeter: fotogrametri DJI Phantom 4 RTK dengan GCP umumnya ±3–5 cm, LiDAR YellowScan ±5–10 cm. Bedanya muncul begitu ada tutupan: di semak, kebun, atau timbunan berumput, permukaan hasil fotogrametri adalah permukaan vegetasi, bukan tanah, sehingga elevasinya bisa meleset puluhan sentimeter atau lebih — sementara LiDAR tetap mendapat titik tanah lewat multi-return. Untuk cut & fill, drainase, dan kontur rapat 0,5 m, bias elevasi 5 cm saja di lahan 30 ha setara ±15.000 m³ tanah — yang langsung menjadi selisih biaya. Karena itu, di lahan bervegetasi LiDAR membayar dirinya sendiri; di lahan terbuka bersih, fotogrametri dengan GCP sudah memadai.

3

Biaya per Hektar — Bukan Sekadar Angka Mentah

Fotogrametri Phantom 4 RTK mulai Rp 500.000/ha, LiDAR YellowScan mulai Rp 1.000.000/ha (belum termasuk PPN 11%) — sekitar 2x lipat. Selisih ini wajar: payload LiDAR mahal, drone pembawanya lebih berat, dan post-processing point cloud lebih intensif. Tapi 'lebih murah' tidak selalu berarti 'lebih hemat'. Jika lahan bervegetasi dan Anda memaksakan Phantom yang murah, Anda akan membayar lagi untuk re-survey ketika data tanah ternyata tidak terbaca. Sebaliknya, di lahan terbuka tanpa pohon, membayar premium YellowScan adalah pemborosan karena fotogrametri sudah memenuhi syarat.

4

Coverage & Deliverable — Cepat di Lapangan vs Cepat di Output

DJI Phantom 4 RTK menutup ~80 ha/hari, YellowScan ~50 ha/hari — foto bisa diambil dari altitude lebih tinggi sehingga satu sortie mencakup area lebih luas. Tapi kecepatan terbang bukan akhir cerita: fotogrametri menghasilkan ratusan-ribuan foto yang butuh pemrosesan Structure-from-Motion panjang. Soal deliverable, keduanya berbeda peruntukan: Phantom unggul untuk ortofoto dan 3D mesh visual (dokumentasi, progress monitoring), YellowScan unggul untuk point cloud LAS/LAZ padat dan DTM/DSM bersih (kontur, volumetri, terrain). Proyek besar sering memadukan keduanya.

Bagian 4 · Decision Matrix

Use-Case → Platform yang Direkomendasikan

Cocokkan kondisi proyek Anda dengan baris di bawah. Rekomendasi ini diturunkan dari karakteristik teknis kedua platform — bukan preferensi vendor. Jika kondisi Anda berada di antara dua skenario, jawabannya sering hybrid: pakai keduanya untuk blok atau fase berbeda dalam satu proyek.

Jika kondisi Anda

Open field 20-100 hektar

Pilih: DJI Phantom 4 RTK (Photogrammetry)
Jika kondisi Anda

Lahan berhutan / vegetasi tebal

Pilih: YellowScan Voyager (LiDAR)
Jika kondisi Anda

Budget terbatas + akurasi cm OK

Pilih: DJI Phantom 4 RTK (Photogrammetry)
Aturan Praktis Satu Kalimat

Tanya dulu: apakah tanah tertutup vegetasi, dan berapa luasnya? Di lahan bervegetasi di bawah 25 ha, bagian di bawah kanopi diukur topografi terestris (total station/GNSS) langsung ke tanah; bila 25 ha ke atas dan Anda butuh DTM tanah asli, pilih YellowScan (LiDAR). Jika lahan terbuka, DJI Phantom 4 RTK dengan GCP sudah memberi akurasi vertikal ±3–5 cm, lebih hemat, dan menutup area lebih luas.

Bagian 5 · Skenario Proyek

6 Skenario Jabodetabek — Platform Mana yang Menang

Berikut enam tipe lahan yang umum dijumpai dan konfigurasi platform yang biasanya optimal, dengan justifikasi singkat agar Anda bisa mengkalibrasi sendiri untuk kasus serupa. Ilustratif — bukan klaim proyek spesifik.

Lahan kavling terbuka 40 ha di Bekasi

Pilihan: DJI Phantom 4 RTK

Lahan sudah land clearing, permukaan bertekstur dan terbuka penuh. Fotogrametri mulai Rp 500rb/ha (belum termasuk PPN 11%) dengan coverage ~80 ha/hari memberi ortofoto + DSM yang cukup untuk siteplan. Modul RTK menjaga akurasi horizontal tetap kuat tanpa banyak GCP. YellowScan di sini overkill secara biaya.

Kebun sawit dewasa di Kabupaten Bogor

Pilihan: YellowScan — wajib

Tajuk sawit menutup tanah hampir total. DJI Phantom hanya akan memodelkan kanopi, bukan terrain. YellowScan menembus celah antar pohon dengan multi-return untuk DTM tanah asli. Akurasi vertikal ±5–10 cm dengan GCP cukup untuk perencanaan blok dan drainase.

Galian/timbunan tambang 30 ha

Pilihan: Phantom (terbuka) / YellowScan (bervegetasi)

Perhitungan cut & fill sangat sensitif terhadap elevasi: bias 5 cm saja di 30 ha setara ±15.000 m³. Di permukaan galian yang terbuka bersih, fotogrametri Phantom dengan GCP (±3–5 cm) sudah memadai. Begitu ada semak, rumput tinggi, atau timbunan bervegetasi, permukaan foto adalah vegetasi, bukan tanah — di situ YellowScan (±5–10 cm dengan GCP, titik tanah lewat multi-return) meminimalkan dispute volume antar pihak.

Progress monitoring konstruksi gudang

Pilihan: DJI Phantom 4 RTK

Yang dibutuhkan adalah ortofoto periodik dan 3D mesh visual untuk laporan progress, bukan terrain di bawah vegetasi. Phantom murah, cepat, dan visualnya lebih menjual untuk laporan ke owner. RTK menjaga konsistensi koordinat antar epoch.

Koridor jalan + saluran melewati semak

Pilihan: YellowScan koridor

Trase melewati semak dan vegetasi parsial yang menutup tanah di beberapa segmen. YellowScan menjaga profil terrain konsisten sepanjang koridor; Phantom akan 'kehilangan' tanah di segmen bervegetasi.

Estate besar campuran terbuka + berhutan

Pilihan: Hybrid — keduanya

Pakai DJI Phantom 4 RTK untuk area terbuka (hemat + ortofoto visual), YellowScan untuk blok berhutan (terrain di bawah kanopi). Satu set GCP dipakai bersama agar kedua dataset menyatu mulus di sistem koordinat yang sama.

Bagian 6 · Hindari Kesalahan Umum

6 Kesalahan Saat Memilih Platform Drone Mapping

#1Memaksakan fotogrametri di lahan bervegetasi tebal

Kesalahan paling mahal. DJI Phantom 4 RTK hanya merekam top of canopy — di sawit, karet, atau semak rapat, hasilnya model daun, bukan tanah. Owner sering tergiur tarif mulai Rp 500rb/ha (belum termasuk PPN 11%) lalu harus re-survey pakai LiDAR. Cek dulu kerapatan vegetasi sebelum memutuskan.

#2Membandingkan angka akurasi tanpa syarat pengukurannya

Angka di brosur (misalnya akurasi sensor 4 cm atau RTK 1 cm) bukan akurasi peta akhir. Minta RMSE vertikal terhadap titik cek independen dengan GCP: fotogrametri di lahan terbuka umumnya ±3–5 cm, LiDAR ±5–10 cm. Di lahan bervegetasi, angka fotogrametri itu tidak berlaku untuk tanah — dan pada cut & fill skala besar, bias elevasi beberapa sentimeter saja bisa berarti dispute volume ribuan m³.

#3Mengandalkan RTK/PPK saja tanpa GCP

Modul RTK pada Phantom 4 RTK mengurangi kebutuhan GCP, bukan menghapusnya. Untuk deliverable perizinan atau konstruksi, tanpa minimal 4–6 GCP, akurasi absolut bisa meleset puluhan sentimeter meski model terlihat rapi secara relatif. Hal sama berlaku untuk YellowScan.

#4Mengira YellowScan adalah drone, bukan payload

YellowScan adalah sensor LiDAR (payload) yang dipasang pada drone pembawa kelas industri — DJI M300/M350 untuk Mapper+, drone heavy-lift untuk Voyager — bukan drone yang berdiri sendiri seperti Phantom. Pastikan vendor punya platform pembawa, baterai, dan workflow processing point cloud yang lengkap, bukan hanya sensornya.

#5Lupa memperhitungkan waktu post-processing

Coverage Phantom yang ~80 ha/hari menggoda, tapi fotogrametri menghasilkan ratusan-ribuan foto yang butuh pemrosesan Structure-from-Motion panjang. Pengolahan data YellowScan (trajektori PPK dan klasifikasi titik tanah) lebih teknis, tetapi umumnya lebih singkat untuk menghasilkan DTM bersih. Hitung total waktu lapangan + processing, bukan hanya jam terbang.

#6Mengabaikan lisensi operator dan zona terbang

Operasi drone komersial wajib dipiloti remote pilot bersertifikat dan, di zona terlarang/terbatas (sekitar bandara, instalasi tertentu), butuh izin tambahan. Ini berlaku untuk Phantom maupun platform pembawa YellowScan. Pastikan vendor punya perizinan lengkap sebelum jadwal terbang.

Verdict

TL;DR — Pilihan Singkat

Pilih DJI Phantom 4 RTK

Bila lahan terbuka penuh (akurasi vertikal ±3–5 cm dengan GCP), budget jadi pertimbangan utama, butuh coverage cepat (~80 ha/hari), atau deliverable utamanya ortofoto & 3D mesh visual untuk siteplan dan progress monitoring.

Pilih YellowScan (LiDAR)

Bila tanah tertutup vegetasi (sawit, karet, semak), pekerjaan cut & fill / drainase / kontur rapat di lahan bervegetasi, atau koridor infrastruktur yang melewati segmen bervegetasi — di mana DTM tanah asli wajib (±5–10 cm dengan GCP).

Rekomendasi Akhir

Untuk estate besar dengan campuran lahan terbuka dan berhutan, jangan paksakan satu platform — gabungkan keduanya dengan satu set GCP bersama. Tim Ambaja akan rekomendasikan konfigurasi yang tepat berdasarkan brief proyek Anda. Kirim luas area, koordinat pin, kerapatan vegetasi, dan deliverable yang dibutuhkan via WhatsApp.

FAQ · 8 Pertanyaan

Pertanyaan Yang Sering Ditanyakan

Apa bedanya DJI Phantom 4 RTK dan YellowScan secara fundamental?

Keduanya sama-sama drone mapping, tetapi merekam dunia dengan cara berlawanan. DJI Phantom 4 RTK adalah drone kamera (RGB) yang memotret ratusan foto beresolusi tinggi, lalu perangkat lunak fotogrametri merekonstruksi model 3D dari overlap antar foto — outputnya foto dan ortofoto. YellowScan Voyager adalah payload LiDAR yang dipasang pada drone pembawa heavy-lift (bobotnya 3,5 kg, di atas muatan DJI M300/M350); ia menembakkan laser dan merekam point cloud LAS/LAZ. Modul RTK pada Phantom menyatukan GNSS presisi langsung ke setiap foto, sehingga dengan GCP akurasinya kuat di lahan terbuka; sedangkan LiDAR YellowScan unggul karena bisa menembus celah vegetasi dan merekam tanah asli di bawahnya.

Mana yang lebih akurat secara vertikal?

Tergantung permukaannya. Di lahan terbuka bertekstur, dengan GCP dan titik cek independen, fotogrametri DJI Phantom 4 RTK umumnya mencapai akurasi vertikal ±3-5 cm, sedangkan LiDAR YellowScan ±5-10 cm — keduanya sama-sama level sentimeter. Bedanya muncul di bawah vegetasi: kamera hanya merekam permukaan teratas, sehingga 'elevasi tanah' hasil fotogrametri di area bersemak atau berpohon sebenarnya elevasi tajuk — melesetnya setinggi vegetasi itu sendiri. LiDAR tetap mendapat titik tanah lewat celah daun, sehingga DTM ±5-10 cm tetap tercapai. Jadi pertanyaannya bukan sekadar 'mana yang akurat', tetapi 'apakah ada vegetasi yang menutup tanah'.

Apakah DJI Phantom 4 RTK bisa menembus pepohonan seperti YellowScan?

Tidak. Ini perbedaan paling tegas. Phantom 4 RTK adalah fotogrametri murni — kamera hanya merekam apa yang terlihat, yaitu permukaan teratas (top of canopy). Di lahan berhutan atau perkebunan rapat, hasilnya adalah model tajuk daun, bukan tanah asli. YellowScan LiDAR menembus celah dedaunan dengan multi-return: satu pulse laser bisa memantul dari daun, ranting, lalu tanah, sehingga DTM (tanah asli) bisa dipisahkan dari DSM (permukaan/kanopi). Untuk lahan bervegetasi tebal seluas 25 ha ke atas, pakai LiDAR; di lahan yang lebih kecil, bagian di bawah kanopi diukur topografi terestris (total station/GNSS) langsung ke tanah.

Berapa biaya jasa per hektar untuk masing-masing?

Di Ambaja, pemetaan drone fotogrametri 2D (layanan UAV Pemetaan: orthomosaic + DSM/DTM) dengan DJI Phantom 4 RTK mulai Rp 500.000 per hektar dengan minimum 10 ha, sementara LiDAR YellowScan mulai Rp 1.000.000 per hektar dengan minimum 25 ha (keduanya belum termasuk PPN 11%). Selisihnya wajar: payload LiDAR jauh lebih mahal, drone pembawanya lebih berat, dan post-processing point cloud lebih intensif. Tarif final tetap tergantung luas total, akses lokasi, kerapatan vegetasi, dan deliverable yang diminta. Untuk lahan terbuka luas tanpa pohon, Phantom 4 RTK memberi value-for-money terbaik; untuk lahan bervegetasi yang butuh DTM tanah asli, biaya tambahan YellowScan justru menghemat survei ulang.

Mana yang menutup area lebih luas per hari?

DJI Phantom 4 RTK menutup area lebih luas: sekitar 80 hektar per hari kerja, dibanding YellowScan yang sekitar 50 hektar per hari. Drone kamera bisa terbang lebih tinggi dan tetap mendapat resolusi foto memadai, sehingga satu sortie mencakup area lebih luas. Namun coverage terbang bukan satu-satunya faktor — fotogrametri menghasilkan ratusan hingga ribuan foto yang butuh pemrosesan Structure-from-Motion yang panjang, sedangkan point cloud LiDAR umumnya lebih ringkas untuk diolah menjadi DTM bersih. Hitung total waktu lapangan plus pemrosesan, bukan hanya jam terbang.

Untuk lahan kavling terbuka 60 hektar, pilih yang mana?

Jika lahannya benar-benar terbuka (sudah land clearing, atau lahan bera/pasca-panen yang tanahnya terbuka — padi atau sayur yang sedang tumbuh tetap menutup permukaan tanah), DJI Phantom 4 RTK adalah pilihan ekonomis dan cepat — coverage hingga 80 ha/hari dan akurasi vertikal ±3-5 cm dengan GCP yang cukup untuk siteplan; tarif publish mulai Rp 500.000/ha berlaku untuk 10–50 ha, sedangkan lahan di atas 50 ha seperti ini dihitung per proyek. Tapi jika 60 hektar itu sebagian tertutup sawit, karet, atau semak rapat, kamera tidak akan melihat tanah, sehingga YellowScan yang menembus vegetasi menjadi keharusan di blok-blok bervegetasi. Kuncinya bukan luas areanya, melainkan seberapa tertutup permukaan tanah oleh vegetasi.

Apakah keduanya tetap butuh GCP?

Ya, untuk deliverable yang dipakai perizinan atau konstruksi, keduanya sebaiknya tetap memakai Ground Control Point (GCP). GCP adalah titik referensi di tanah yang koordinatnya diukur presisi pakai GPS RTK/GNSS, lalu dipakai 'mengunci' hasil drone ke sistem koordinat sebenarnya. Modul RTK pada Phantom 4 RTK memang mengurangi jumlah GCP yang diperlukan, dan YellowScan bergantung pada IMU + GNSS untuk geo-referencing, tetapi tanpa GCP, baik model fotogrametri maupun point cloud LiDAR bisa meleset puluhan sentimeter secara absolut meski terlihat rapi secara relatif. Praktik terbaik: pasang minimal 4-6 GCP per misi agar akurasi yang tertulis di tabel benar-benar tercapai.

Apakah Ambaja menyediakan kedua platform ini di Jabodetabek?

Ya. Ambaja melayani pemetaan udara fotogrametri (kelas DJI Phantom 4 RTK) dan LiDAR drone (kelas YellowScan) untuk seluruh Jabodetabek, Karawang, dan Cikarang, lengkap dengan tim surveyor dan operator drone berpengalaman. Kami bantu pilih platform yang paling tepat dan hemat untuk kondisi lahan Anda — kirim lokasi pin Google Maps, luas perkiraan, dan deliverable yang dibutuhkan via WhatsApp, tim kami balas dengan rekomendasi metode plus estimasi biaya per hektar.

Pendalaman · Komparasi & Panduan

Mau bandingkan LiDAR vs Photogrammetry secara umum atau dalami metodologi alat ukur?

Halaman ini fokus pada dua produk spesifik. Untuk komparasi metode yang lebih luas & decision tree pemilihan alat, lanjut ke dua link berikut.

Bacaan Lanjutan
Butuh Konsultasi Drone Mapping?

Tim Ambaja Bantu Pilihkan Platform Yang Tepat.

Kirim brief proyek (luas area, lokasi pin, kerapatan vegetasi, deliverable). Tim surveyor & operator drone Ambaja akan balas dengan rekomendasi platform — fotogrametri atau LiDAR — plus estimasi biaya per hektar.

Belum yakin? Lihat portofolio proyek scaffolding & ukur tanah Ambaja dulu

Kontak Langsung

WhatsApp / Phone
+62 822 2055 5035
Email
sales@ambaja.co.id
Jam Operasi Sales
WA Sales 24/7 · Lapangan Sen–Sab 08–17
Gudang
Jl. Masjid As-Surur No. 49A, Kebon Jeruk, Jakarta Barat
WhatsApp