Total Station vs GPS RTK vs LiDAR — Mana Akurat
Bedah teknis tiga teknologi pengukuran lapangan paling sering ditanyakan owner: Total Station optikal (Topcon GM-105, Leica TS07), GNSS RTK (Trimble R8s/R12i), dan LiDAR drone (DJI M350 RTK + YellowScan Mapper+). Spec akurasi datasheet vs real-world Jabodetabek, produktivitas titik-per-hari, sumber error tiap alat, estimasi biaya per skala proyek, dan rekomendasi kombinasi optimal untuk lahan ≤ 1 ha sampai kawasan industri 50+ ha.
Pertanyaan yang paling sering masuk ke meja sales Ambaja minggu ini kira-kira begini: “Pak, untuk pemetaan kawasan industri 15 hektar di Cikarang Timur — lebih akurat pakai Total Station, GPS RTK, atau LiDAR drone?” Jawaban jujurnya tidak sesederhana satu menang absolut. Tiap teknologi punya filosofi pengukuran berbeda, dengan trade-off akurasi vertikal, produktivitas titik per hari, dan total biaya proyek yang bisa berselisih 10× lipat tergantung skenario lapangan.
Artikel ini menguraikan tiga teknologi dari sisi praktis: spec alat yang dipakai Ambaja di lapangan (Topcon GM-105, Leica TS07, Trimble R12i, Trimble R8s, DJI Matrice 350 RTK + YellowScan Mapper+), sumber error tiap alat, produktivitas riil, dan rekomendasi alat per skenario proyek konstruksi maupun ukur tanah di Jabodetabek, Karawang, dan Cikarang.
Tiga Teknologi, Tiga Filosofi Pengukuran
Sebelum bicara mana “paling akurat”, penting dipahami bahwa Total Station, GNSS RTK, dan LiDAR mengukur dunia dengan cara yang sangat berbeda. Total Station bekerja secara terestris & relatif: alat berdiri di titik kontrol, mengirim sinar laser ke prisma yang dipegang surveyor di target, lalu menghitung jarak dari time-of-flight dan sudut dari encoder. Hasilnya akurasi sangat tinggi pada titik yang ditembak, tapi setiap titik harus ditembak satu per satu — produktivitas terbatas tangan.
GNSS RTK (Real-Time Kinematic) bekerja secara diferensial & berbasis satelit: rover di tangan surveyor menerima sinyal dari multi-konstelasi (GPS, GLONASS, Galileo, BeiDou) sambil mendapat koreksi real-time dari base station lokal atau jaringan CORS BIG. Posisi rover dihitung relatif terhadap base atau stasiun CORS terdekat (komponen ppm membesar seiring jarak), lalu dinyatakan dalam koordinat global. Cepat di area terbuka, lemah di bawah kanopi atau dinding tinggi.
LiDAR drone bekerja secara massal & tanpa-kontak: sensor LiDAR menembakkan 200.000-1.500.000 pulse laser per detik dari ketinggian terbang 80-120 m, mencatat time-of-flight ke permukaan tanah, vegetasi, dan bangunan. Hasilnya point cloud dengan density 100-200 titik per meter persegi — ratusan ribu kali lebih banyak titik dibanding yang bisa diambil Total Station dalam waktu yang sama, tetapi akurasi per titik lebih longgar.
Total Station seperti memetik buah satu-satu dengan tangan: akurasi tinggi per buah, tapi lambat. GNSS RTK seperti memanen dengan mesin: cepat, butuh langit terbuka. LiDAR seperti panen kombain: semua tersapu sekaligus, tapi tetap perlu sortir manual nantinya.
Spec Akurasi & Sumber Error Tiap Alat
Berikut spec akurasi nominal dari datasheet pabrikan untuk alat yang dipakai Ambaja di lapangan, beserta penyebab error paling sering kami temui di Jabodetabek:
| Alat (model riil Ambaja) | Akurasi Horizontal | Akurasi Vertikal | Sumber Error Utama |
|---|---|---|---|
| Total Station Topcon GM-105 | Sudut 5″; jarak prisma ±1,5 mm + 2 ppm (tanpa prisma ±2 mm + 2 ppm) | Sudut zenit 5″ (±2,4 mm per 100 m) + komponen jarak | Sentering alat, prisma constant, refraksi udara |
| Total Station Leica TS07 | Sudut 1″–7″ sesuai varian; jarak prisma ±1 mm + 1,5 ppm (tanpa prisma ±2 mm + 2 ppm) | Sudut zenit sesuai varian (1″ ≈ 0,5 mm per 100 m) + komponen jarak | Pole tidak tegak, target jauh > 200 m |
| GNSS RTK Trimble R8s | ±8 mm + 1 ppm | ±15 mm + 1 ppm | Multipath dinding/pohon, PDOP > 4, age-of-correction |
| GNSS RTK Trimble R12i (ProPoint) | ±8 mm + 1 ppm | ±15 mm + 1 ppm | Sama dengan R8s, lebih tahan multipath berkat ProPoint |
| DJI Matrice 350 RTK (drone platform) | ±10 mm + 1 ppm (RTK fix) | ±15 mm + 1 ppm | Loss-of-lock saat turbulen, kalibrasi IMU |
| YellowScan Mapper+ (LiDAR) | Akurasi sistem 4 cm, presisi 3,5 cm (spek pabrikan; tidak dipisah horizontal/vertikal) | ±5-10 cm dengan GCP (RMSE deliverable) | Boresight calibration, GCP kurang, vegetasi rapat |
Yang sering luput dari diskusi: angka akurasi datasheet adalah 1-sigma di kondisi ideal pabrik. Di lapangan Jabodetabek yang hangat-lembap (suhu siang 32-34°C, kelembapan tinggi terutama pagi hari dan musim hujan) dan padat (multipath dari ruko 4 lantai), real-world accuracy bisa 1,5-2× lebih longgar. Itu sebabnya Ambaja selalu menetapkan toleransi proyek pada 2-sigma worst case, bukan datasheet number.
Sumber error Total Station yang paling sering di-skip
- Refraksi atmosferik & curvature: untuk shot > 200 m, koreksi k = 0,14 (refraksi) dan koreksi kelengkungan bumi harus diaktifkan. Banyak surveyor pemula skip ini saat traverse panjang > 500 m.
- Pole tidak tegak: pole 2,15 m yang miring 1° memberi error horizontal 3,7 cm. Bubble pole wajib dikalibrasi setiap pagi.
- Prisma constant salah: Topcon mini prisma -30 mm, Leica standar 0 mm — salah set memberi error sistematik di setiap shot.
Sumber error GNSS RTK yang sering jadi blunder
- Multipath dari dinding/atap seng: sinyal satelit memantul dulu sebelum diterima rover. Standar Ambaja: tolak akuisisi bila jumlah satelit fix < 6 atau PDOP > 4.
- Age-of-correction tinggi: jeda data koreksi base ke rover > 2 detik (sinyal radio lemah) memperbesar error vertikal hingga 5-10 cm.
- Datum & geoid model salah: tinggi ellipsoid vs tinggi orthometric beda sekitar 17-19 m di Jabodetabek-Karawang-Cikarang (±15-33 m dari barat ke timur Jawa). Lupa menerapkan geoid membuat elevasi meleset belasan meter; memakai model global (EGM96/EGM2008) alih-alih INAGEOID2020 bisa menggeser elevasi laporan hingga puluhan sentimeter dari benchmark BIG.
Sumber error LiDAR yang baru muncul saat processing
- Boresight calibration drift: sudut roll-pitch-yaw antara IMU dan sensor LiDAR bisa bergeser setelah benturan keras (crash atau hard landing). YellowScan menyarankan healthcheck kalibrasi tahunan dan kalibrasi ulang setelah benturan; offset antarjalur tetap dicek saat strip adjustment di setiap proyek.
- GCP / checkpoint terlalu sedikit: standar Ambaja minimal 1 GCP per 10 hektar (5 GCP untuk 50 hektar) plus checkpoint independen untuk validasi vertikal. Untuk redundansi, Ambaja umumnya memasang 8-12 GCP.
- Vegetasi rapat > 80% canopy closure: hanya sebagian kecil pulse laser yang tembus ke tanah, sehingga titik ground jarang dan DTM bisa “menggelembung” bila bottom-of-canopy terklasifikasi sebagai ground.
Produktivitas Lapangan: Titik per Hari
Akurasi tidak banyak artinya kalau alat butuh berbulan-bulan untuk menyelesaikan satu kawasan. Berikut angka produktivitas riil dari log lapangan Ambaja 12 bulan terakhir di Jabodetabek-Karawang-Cikarang, dengan asumsi 1 hari kerja efektif 7 jam (membuang waktu mobilisasi pagi dan packing sore):
| Teknologi | Titik / Hari | Luas Optimal / Hari | Crew Minimum |
|---|---|---|---|
| Total Station (Topcon/Leica) | 120-180 titik detail | 1-2 hektar (lahan terbuka) | 2 orang (operator + pole man) |
| GNSS RTK (Trimble R8s/R12i) | 400-700 titik detail | 2-4 hektar (lahan terbuka) | 1 orang (single rover) atau 2 |
| LiDAR drone (DJI M350 + YellowScan) | ±50-200 juta titik (point cloud) | 50-100 hektar (3-5 sortie) | 2 orang (pilot + ground crew) |
Angka di atas adalah productive output, bukan akumulasi kasar. Untuk LiDAR, “50-100 hektar per hari” sudah memperhitungkan time-on-station 25-40 menit per pasang baterai TB65 (M350 RTK terbang dengan dua baterai), dengan transisi baterai cepat 4-5 menit dan total 3-5 sortie per hari kerja. Hasilnya: lahan 50 hektar yang dengan Total Station butuh 25-50 hari kerja, dengan LiDAR cukup 1-2 hari kerja akuisisi plus 5-7 hari processing.
Bila kebutuhan Anda “peta kontur 50 hektar, deadline 14 hari”, Total Station bukan pilihan — bukan karena tidak akurat, tapi karena secara matematis durasi tidak masuk. Survei udara jadi opsi yang masuk akal: LiDAR drone bila lahan bervegetasi, atau UAV pemetaan bila lahan terbuka.
Use Case Ideal per Skala & Jenis Proyek
Berikut peta keputusan yang kami pakai di internal Ambaja saat menerima brief baru. Faktor utama: luasan lahan, tutupan vegetasi, jenis deliverable, dan target akurasi vertikal:
Total Station
- Stake-out bangunan presisi (kolom, pondasi tiang pancang)
- As-built drawing (verifikasi elemen terpasang)
- Survey area padat dengan dinding tinggi (gang sempit Tebet, Pasar Minggu)
- Lahan ≤ 2 hektar dengan akurasi vertikal < 1 cm
- Checkpoint independen untuk validasi LiDAR (pojok bangunan, manhole, puncak gundukan)
GNSS RTK
- Boundary survey perimeter lahan terbuka
- Topografi lahan datar 2-10 hektar
- Pengikatan BM utama proyek ke jaring kontrol BIG (receiver GNSS mode statik 30-60 menit, bukan sekali baca RTK)
- Pengikatan GCP untuk LiDAR drone
- Survey hidrografi pesisir bila kombinasi dengan echo sounder
LiDAR Drone
- Pemetaan lahan bervegetasi ≥ 25 hektar untuk kawasan industri/perumahan (lahan terbuka mulai 10 ha: UAV pemetaan; bervegetasi di bawah 25 ha: topografi terestris)
- Lahan dengan vegetasi sedang (50-70% canopy)
- Volume cut and fill dari DTM (kontur 0,5 m / 1 m)
- Pre-konstruksi koridor jalan / saluran irigasi panjang yang bervegetasi (koridor terbuka: UAV pemetaan)
- Audit progres land clearing bulanan di lahan yang sebagian masih bervegetasi (compare cloud bulan-ke-bulan; blok yang sudah terbuka cukup UAV pemetaan)
Pola jelas: Total Station unggul saat akurasi per titik < 1 cm menjadi non-negotiable (stake-out kolom, as-built finishing). GNSS RTK unggul saat lahan terbuka dan butuh kecepatan menengah. LiDAR unggul saat lahan bervegetasi sudah masuk skala puluhan hektar (mulai 25 ha) dan deliverable bukan titik individual tetapi permukaan kontinu. Detail teknis trade-off antara dua teknologi terestris bisa dibaca di perbandingan Total Station vs GPS RTK, sedangkan dua metode udara dibandingkan di LiDAR vs fotogrametri.
Biaya Operasional & Total Cost of Ownership
Banyak owner fokus ke “harga per hektar” tetapi melewatkan total cost of ownership: mobilisasi, deposit alat, durasi proyek, hingga risiko rework. Berikut estimasi biaya indikatif Ambaja per teknologi untuk proyek tipikal di Jabodetabek (harga belum termasuk PPN 11%; mobilisasi Jabodetabek–Karawang–Cikarang sudah termasuk, di luar area itu dihitung di quotation):
| Teknologi (Proyek Tipikal) | Base Price | Catatan |
|---|---|---|
| Topografi terestris TS + RTK (≤ 5 ha) | Min. Rp 1,5 juta (< 5.000 m²); 0,5-1 ha Rp 250-350 / m²; 1-5 ha Rp 200-275 / m² | Akurasi topografi standar ±2-5 cm |
| Topografi RTK saja (lahan terbuka 2-5 ha) | Rp 200-275 / m² (tier 1-5 ha, tidak dibedakan per alat) | Akurasi vertikal ±2-3 cm |
| Topografi LiDAR drone (min. 25 ha) | Rp 1 juta / hektar | Akurasi vertikal ±5-10 cm dengan GCP (GCP dihitung terpisah), kontur 0,5 m / 1 m |
| Boundary survey (min. 1.000 m²; > 1 ha quote) | Rp 500 / m² | RTK + TS, peta batas DWG + koordinat UTM, akurasi 5-10 cm |
| Sondir mekanik 2,5 ton (s/d 20 m, min. 3 titik) | Rp 1,5 juta / titik | Data qc/fs untuk estimasi daya dukung tanah; meter tambahan dihitung terpisah |
| Stake-out bangunan | Quote per proyek (rincian per titik bila diminta) | TS untuk posisi (akurasi sub-cm) + sipat datar untuk elevasi |
Perhitungan kasar: bila memakai tarif publik terendah Rp 200/m² sebagai pembanding, lahan 50 hektar dengan topografi RTK murni setara ±Rp 100.000.000 (50 ha × 10.000 m² × Rp 200; di atas 5 ha tarif aktual lewat quote) dan butuh sekitar 13-25 hari kerja crew berdua (2-4 hektar per hari). Dengan LiDAR drone, biayanya mulai Rp 50.000.000 (50 ha × Rp 1 juta, sudah termasuk processing; GCP dihitung terpisah) dan selesai dalam 7-14 hari. Selisihnya sekitar 2× di biaya dan hingga sekitar 2× di durasi. Untuk skala puluhan hektar, survei udara menang ekonomi bahkan ketika akurasi vertikal lebih longgar — LiDAR untuk lahan bervegetasi mulai 25 ha, UAV pemetaan (mulai Rp 500 ribu/ha, minimum 10 ha) untuk lahan terbuka — dengan catatan deliverable yang dibutuhkan adalah peta kontur, bukan koordinat titik individual presisi.
Untuk halaman penawaran resmi, lihat tabel harga lengkap Ambaja yang sudah dipecah per jasa. Untuk konteks studi kasus nyata yang kombinasi RTK base + LiDAR drone, lihat Pemetaan LiDAR 50 Hektar Cikarang — di sana ada angka RMSE vertikal aktual 6,8 cm dan durasi end-to-end 9 hari kerja.
Kombinasi Optimal: Kenapa Jarang Dipakai Sendirian
Di sebagian besar proyek skala menengah-besar yang kami kerjakan, ketiga teknologi dipakai bergantian dalam satu workflow. Bukan karena mahal-mahalan, tapi karena masing-masing menutupi blind spot yang lain:
Workflow kombinasi standar Ambaja untuk lahan bervegetasi ≥ 25 hektar
- GNSS statik 30-60 menit per Bench Mark (BM): memasang 4-8 BM yang diikat ke jaring kontrol nasional BIG. Ini jadi titik referensi absolut seluruh proyek.
- GNSS RTK kinematic untuk GCP LiDAR: 8-12 ground control point berupa target X 1×1 m yang disebar merata di lahan, koordinat horizontal-vertikal diukur RTK fix.
- LiDAR drone akuisisi: misi 3-5 sortie M350 RTK + YellowScan, side overlap 30-50%, ketinggian 80-100 m.
- Total Station untuk verifikasi spot: 5-10% titik kritikal (pojok bangunan eksisting, manhole, puncak hill) di-shot ulang dengan TS sebagai independent checkpoint untuk LiDAR.
- Post-processing & report: point cloud LiDAR di-georeferensi ke GCP, dihitung RMSE-nya terhadap checkpoint TS. Bila RMSE vertikal > 10 cm, area diakuisisi ulang sebelum delivery ke owner.
Pendekatan kombinasi ini yang dipakai di proyek kawasan industri 50 hektar Cikarang. Total Station tidak dipakai memetakan semua, hanya dipakai sebagai “wasit” — memastikan LiDAR tidak meleset sistematis di kuadran tertentu. RTK tidak memetakan semua, hanya dipakai sebagai backbone kontrol. LiDAR yang melakukan heavy lifting volume data, tetapi tetap perlu diverifikasi dua alat lain.
Argumen “mana paling akurat” sebetulnya keliru framing di proyek hektar. Pertanyaan yang benar: kombinasi mana yang memenuhi target akurasi dengan durasi dan biaya yang masuk akal untuk skala proyek saya?
Enam Kesalahan Pemilihan Alat yang Sering Kami Lihat
- Memaksa LiDAR untuk lahan di bawah 25 hektar. Biaya tetap drone LiDAR (sensor, pilot, baterai, processing) tidak terkompensasi pada skala kecil — itu sebabnya tarif LiDAR Ambaja minimum 25 hektar. Untuk 1 hektar, Total Station + RTK selesai 1-2 hari dengan biaya sekitar Rp 2-3,5 juta, kira-kira sepersepuluh tagihan minimum LiDAR (25 ha × Rp 1 juta = Rp 25 juta); kedua angka belum termasuk PPN 11%.
- Pakai RTK murni di kawasan kanopi rapat 80%+. Hasilnya posisi melompat-lompat (jumping) dan PDOP buruk. Solusi: TS untuk traverse di bawah kanopi, RTK hanya di open sky di pojok area.
- Stake-out kolom bangunan pakai RTK saja. Akurasi vertikal RTK ±1,5 cm masih terlalu kasar untuk leveling pile cap tower 12+ lantai. Standar industri stake-out: Total Station dengan prisma standar untuk posisi (akurasi sub-cm), sedangkan elevasi pile cap ditransfer dengan sipat datar dari BM proyek. Lihat juga halaman stake-out Ambaja untuk detail SOP.
- Tidak pasang GCP saat akuisisi LiDAR. Hasil point cloud bisa “melayang” puluhan sentimeter hingga meter secara vertikal dari datum BIG bila koordinat base station, datum, atau model geoid keliru — tanpa GCP dan checkpoint, kesalahan itu tidak terdeteksi. Wajib minimal 5 GCP per 50 hektar.
- Pilih alat berdasarkan harga termurah saja. Vendor yang menawarkan LiDAR “diskon” tanpa GCP biasanya skip post-processing serius. Biaya rework di akhir (akuisisi ulang, re-processing, jadwal mundur) bisa jauh melampaui selisih harga dengan vendor yang harga premium tapi workflow lengkap.
- Tidak konfirmasi datum & sistem koordinat di awal. UTM Zone 48S (seluruh Jabodetabek, Karawang, Cikarang, hingga Bandung) berbeda dengan 49S (timur 108° BT, mulai sekitar Indramayu–Cirebon), dan UTM berbeda lagi dengan TM-3 yang dipakai BPN. Salah zona atau proyeksi bisa memberi offset planimetrik ratusan kilometer di hasil akhir. Selalu sebutkan zona UTM di kontrak.
Rekomendasi Praktis per Skenario Proyek
Berikut peta keputusan cepat yang bisa Anda pakai untuk briefing internal sebelum kontak vendor:
| Skenario | Rekomendasi Alat | Alasan Utama |
|---|---|---|
| Renovasi rumah 3 lantai, lahan 250 m² | Total Station + RTK ringan | Lahan kecil dalam gang, multipath dinding tinggi |
| Perumahan baru 30 unit, 1,5 hektar | RTK + TS verifikasi | Skala menengah, lahan sebagian terbuka |
| Gedung kantor 12 lantai, lahan 4.000 m² | Total Station (stake-out kolom) + sipat datar (elevasi) | Marking as kolom ±5 mm dan elevasi pile cap presisi sub-cm |
| Kawasan industri 50 hektar, baru clearing | UAV pemetaan + RTK GCP + TS spot check (LiDAR drone hanya untuk blok yang masih bervegetasi, min. 25 ha) | Skala hektar, lahan sebagian masih vegetasi |
| Pemetaan koridor jalan 5 km | UAV pemetaan strip mapping (LiDAR drone bila koridor bervegetasi) | Bentuk memanjang, efisien aerial |
| Cut & fill bukit 2 hektar | Topografi Total Station + RTK (grid rapat + breakline) | Di bawah minimum LiDAR (25 ha) dan UAV (10 ha) |
| Boundary kavling SHM lama | RTK + TS dalam gang | Akurasi koordinat batas, multipath gang |
| As-built drawing renovasi pabrik | Total Station + 3D laser scanner terestrial (Faro Focus / Leica BLK360) | Detail interior & ruang MEP padat, point cloud 2-5 mm |
Untuk informasi spesifik per layanan, gunakan halaman berikut: untuk survey terestris standar lihat survey topografi, untuk pemetaan udara LiDAR drone dan UAV pemetaan, untuk verifikasi batas boundary & pemecahan, dan untuk perbandingan dua-arah baca Total Station vs GPS RTK. Untuk konteks beda topografi dan boundary, lihat juga artikel perbandingan use case topografi vs boundary survey.
Bila proyek Anda berada di Cikarang, Karawang, Bekasi, atau Jakarta Selatan, halaman wilayah tersebut memuat jadwal kirim dari Gudang Kebon Jeruk (satu-satunya gudang Ambaja), rute tol, dan jarak tempuh ke lokasi.
Pertanyaan yang sering muncul soal Total Station, GPS RTK, dan LiDAR
Ditulis oleh
Shorim Haniffanshoib
Senior Surveyor Ambaja yang terdaftar di Ikatan Surveyor Indonesia (ISI), menangani setting out, topografi, dan boundary survey di Jabodetabek, Karawang, dan Cikarang. Artikel teknis di blog ini disusun berdasarkan log proyek aktual dan datasheet pabrikan, bukan kompilasi internet.
Artikel Terkait — Ukur Tanah
- DJI Phantom RTK vs YellowScan vs Riegl LiDARBedah teknis tiga ekosistem pemetaan udara untuk proyek hektar: DJI Phantom 4 RTK (photogrammetry standalone), YellowScan Mapper+ (LiDAR survey-grade di DJI Matrice 350 RTK), dan Riegl miniVUX-1UAV / VUX-1LR (LiDAR kelas industri). Spec sensor datasheet, akurasi RMSE riil Jabodetabek-Karawang-Cikarang, density point cloud, produktivitas hektar per sortie, struktur biaya akuisisi end-to-end, plus rekomendasi kombinasi platform & payload per skenario proyek konstruksi, kawasan industri, dan koridor utility.Baca artikel
- Apa Itu Surveyor Berlisensi Terdaftar ISILong-form edukasi B2B: bedah arti riil 'surveyor berlisensi & terdaftar di ISI' (Ikatan Surveyor Indonesia). Beda lisensi vs sertifikat vs registrasi, peran ISI vs BIG dalam ekosistem profesi surveyor Indonesia, checklist 7 langkah verifikasi surveyor sebelum tanda tangan kontrak, alat standar industri (Topcon, Leica, Trimble, DJI, YellowScan), dan kapan owner/developer perlu memakai surveyor berlisensi.Baca artikel
- Topografi vs Boundary Survey — Beda Use CaseBedah tuntas dua jenis survey lahan yang paling sering tertukar: kapan pakai topografi (engineering/DED), kapan boundary (pemecahan internal/referensi transaksi), alat, akurasi, durasi, deliverable, dan estimasi biaya untuk proyek di Jabodetabek.Baca artikel
Konsultasi Gratis · 24/7 WhatsApp
Butuh rekomendasi alat ukur yang tepat untuk proyek Anda?
Kirim luasan, lokasi, dan deliverable yang Anda butuhkan ke WhatsApp Ambaja. Tim surveyor kami akan rekomendasikan kombinasi Total Station / RTK / LiDAR yang paling efisien dan kirim quotation awal tertulis dalam 24 jam kerja (untuk lahan ≥ 1 ha, boundary, atau LiDAR, quotation final menyusul setelah site visit +1–2 hari kerja).



