Portofolio Ukur Tanah — Topografi, LiDAR, Boundary, Setting Out
3 case study proyek ukur tanah Ambaja — dari topografi LiDAR YellowScan + DJI Phantom 4 RTK di lahan industrial 50 hektar Cikarang, boundary survey 12 hektar (180 kavling) di BSD, hingga setting out apartemen 30 lantai Bintaro dengan toleransi ±2mm per lantai pakai Leica TS16.
Diterbitkan oleh AmbajaTerakhir diperbarui:- Cikarang
Topografi LiDAR 50 Hektar di Deltamas, Cikarang
Pemetaan topografi 50 hektar lahan industrial estate dengan LiDAR YellowScan + DJI Phantom 4 RTK. Deliverable kontur 0.5m, DWG, PDF, dan ortofoto.
- Luas area
- 50 hektar
- Alat
- YellowScan Voyager + DJI P4 RTK
- Tangerang
Boundary Survey Perumahan 12 Hektar di BSD
Boundary survey lahan kavling perumahan 12 hektar di BSD untuk developer mid-size. Pemecahan ke 180 kavling siap jual dengan koordinat geodetik.
- Luas area
- 12 hektar
- Jumlah kavling
- 180 kavling
- Tangerang
Setting Out Apartemen 30 Lantai di Bintaro
Setting out as kolom & dinding apartemen 30 lantai di Bintaro Jaya. Toleransi ±2mm per lantai dengan total station Leica TS16.
- Lantai
- 30 lantai + 3 basement
- Toleransi
- ±2mm per lantai
Membaca bukti proyek ukur tanah
Portofolio survey perlu menunjukkan hubungan antara tujuan pengukuran, metode, kontrol data, dan keluaran. Kerangka berikut membantu membedakan dokumentasi yang relevan untuk keputusan desain dari ringkasan proyek yang hanya menjelaskan aktivitas lapangan.
1. Mulai dari tujuan penggunaan data
Tanyakan apakah hasil dipakai untuk perencanaan, stake-out, dokumentasi kondisi terbangun, perhitungan volume, atau kepastian batas. Tujuan ini menentukan fitur yang harus direkam, sistem koordinat, tingkat detail, dan cara hasil diperiksa.
2. Telusuri rantai kontrol
Cari informasi tentang titik kontrol, referensi koordinat, pemeriksaan silang, serta penanganan area yang sulit diukur. Rantai kontrol yang dapat dijelaskan memberi konteks lebih kuat daripada menyebut alat presisi tanpa menerangkan bagaimana data divalidasi.
3. Periksa bentuk keluaran
Bandingkan struktur layer, tabel koordinat, gambar, laporan, atau data mentah dengan kebutuhan tim penerima. Keluaran yang bagus harus dapat dipakai oleh disiplin berikutnya dan memiliki keterangan cukup untuk memahami versi, satuan, serta batas cakupan.
4. Catat batas interpretasi
Pisahkan objek yang benar-benar diukur, elemen yang diinterpretasikan, dan area yang tidak dapat diakses. Batas ini penting ketika data dipakai untuk desain atau perhitungan agar tim tidak memperlakukan seluruh permukaan sebagai hasil observasi yang setara.
Gunakan contoh proyek untuk menyusun daftar keluaran dan pemeriksaan yang Anda perlukan. Metode serta alat baru dipilih setelah tujuan, kondisi lahan, referensi koordinat, dan format penerimaan disepakati bersama pengguna data.
Lanjutkan dari contoh ke keluaran data
Hubungkan bukti dengan tujuan survey, format keluaran, referensi koordinat, dan pengguna data.