Lompat ke konten
Ambaja.
Aktif Jabodetabek · Surveyor Berlisensi ISI

// LiDAR YellowScan · Voyager (Riegl VUX-120) · Penetrasi Kanopi

Sewa & Operator LiDAR YellowScan.

Pemetaan area berkanopi rapat (hutan, perkebunan), tambang, koridor. Akurasi 5-10 cm vertikal dengan GCP (spek pabrikan Voyager 1 cm) · density 100-200 titik/m². Brand YellowScan Voyager (Riegl VUX-120 sensor), YellowScan Mapper+. Deliverable: Point cloud LAS, DTM/DSM bare-earth, kontur DWG 0,5/1 m (cut & fill/volumetrik dihitung terpisah). Dikerjakan tim surveyor di bawah supervisi Kepala Surveyor terdaftar di ISI (Ikatan Surveyor Indonesia).

Akurasi

5-10 cm vertikal dengan GCP (spek pabrikan Voyager 1 cm) · density 100-200 titik/m²

spec brosur

Range / Coverage

Tinggi terbang 80-120 m AGL

jangkauan efektif

Rate Akuisisi

50-100 ha/hari kerja

produktivitas standar

5-10 cm vertikal dengan GCP (spek pabrikan Voyager 1 cm) · density 100-200 titik/m²

Akurasi spec brosur

ISI

Kepala Surveyor terdaftar

Lahan berkanopi

Best for use case

Jabodetabek

+ Karawang/Cikarang/Nasional

// Tentang LiDAR YellowScan

Instrumen teknis Ambaja.

LiDAR YellowScan adalah aerial LiDAR system buatan Perancis yang dipasang di drone multirotor (Mapper+ muat di DJI Matrice 350 RTK; Voyager butuh drone heavy-lift bermuatan lebih besar) untuk akuisisi point cloud dense dengan kemampuan penetrasi kanopi — sensor laser pulse memancarkan ratusan ribu pulse per detik, sebagian pulse menembus celah daun sampai ke tanah asli (last return). Output utama: point cloud LAS dengan klasifikasi otomatis (ground, vegetation, building, water) + DTM bare-earth + kontur presisi. Ambaja mengoperasikan YellowScan Voyager (sensor RIEGL VUX-120; spesifikasi pabrikan akurasi 1 cm dan presisi 0,5 cm; density deliverable 100-200 titik/m², vegetasi padat hingga 200-300 titik/m²) sebagai armada utama dan YellowScan Mapper+ (sensor Livox AVIA; akurasi 4 cm dan presisi 3,5 cm; ±170 titik/m² pada 100 m AGL dan 10 m/s menurut pabrikan) sebagai backup.

Bedanya dengan drone photogrammetry: photogrammetry hanya capture top of canopy (DSM = top of vegetation/building), tidak bisa lihat ground di bawah pohon rapat. LiDAR mampu penetrasi celah kanopi — typical 1-5% pulse dari Voyager mencapai ground walaupun di hutan tropis kanopi 80% closed. Setelah filter (LAStools / TerraScan / CloudCompare), point cloud ground digunakan untuk generate DTM bare-earth — target akurasi vertikal 5-10 cm dengan GCP; di bawah kanopi rapat, akurasi titik tanah bergantung pada jumlah pulsa yang tembus dan dilaporkan terpisah. Trade-off-nya: tarif per hektar ±1,3-2x fotogrametri drone (Rp 1 jt/ha vs Rp 500-750 rb/ha; minimum 25 ha, GCP dihitung terpisah; belum termasuk PPN 11%), processing lebih kompleks, dan butuh post-processing GNSS-INS (PPK trajectory) yang detail.

Ambaja menstandarkan Voyager (pemindai RIEGL VUX-120) sebagai armada utama — sensor LiDAR multi-return kelas survei. Spesifikasi pabrikan: hingga 2.400.000 tembakan per detik, hingga 32 echo per tembakan, FOV 100° × 20°, AGL maksimum 440 m, presisi 0,5 cm dan akurasi 1 cm, berat 3,5 kg tanpa baterai. Bobot itu melebihi muatan DJI Matrice 300/350 RTK (±2,7 kg), jadi Voyager diterbangkan dengan drone multirotor heavy-lift, sedangkan Mapper+ (1,1 kg) muat di DJI Matrice 350 RTK. Integrasi GNSS-INS Applanix AP+ untuk trajectory PPK akurasi 2-3 cm post-processed. Software processing: YellowScan CloudStation (alignment + initial filter), LASTools (classification), TerraScan (manual cleanup), Agisoft Metashape (untuk colorization dari RGB cam).

Use case dominan klien Ambaja sejak 2020: (1) survey kebun sawit / karet / kelapa untuk inventarisasi pohon + DTM jalan kebun (PT perkebunan, sertifikasi RSPO), (2) survey hutan untuk konsesi HTI / HPH (jumlah pohon, biomass estimasi, koridor logging), (3) pemetaan koridor jalan tol & jalur kereta untuk feasibility study + design (10-50 km koridor), (4) volumetric tambang & quarry dengan vegetasi sekitar (point cloud ground akurat untuk hitung volume), (5) flood mapping & disaster assessment (DTM ground actual untuk hydraulic modeling), dan (6) mangrove & wetland mapping untuk environmental impact assessment (akses ground sulit, LiDAR jadi satu-satunya cara). Setiap proyek dilengkapi raw data LAS + sertifikat akurasi + report processing.

// Spec Teknis Detail

Spec teknis LiDAR YellowScan.

Spec lengkap brand & model Ambaja, akurasi lapangan, range operasi, dan software processing yang dipakai. Total Station, GPS, LiDAR, dan 3D scanner dikalibrasi atau di-healthcheck minimal setahun sekali di service center resmi pabrikan — sertifikat dapat diaudit; drone dikalibrasi IMU/kompas sebelum tiap mobilisasi.

ParameterDetail / Value
Brand & sensor primerYellowScan Voyager (RIEGL VUX-120), YellowScan Mapper+ (Livox AVIA)
Akurasi & presisi (spesifikasi pabrikan)Voyager: akurasi 1 cm, presisi 0,5 cm; Mapper+: akurasi 4 cm, presisi 3,5 cm
Point density ground (after filter)Voyager: 50-200 titik/m²; Mapper+: 20-80 titik/m²
Laju tembakanVoyager: hingga 2.400.000/detik; Mapper+: hingga 240.000/detik
Field of view (FOV)Voyager: 100° × 20°; Mapper+: 70,4° × 4,5°
Operating altitude (AGL)Voyager: standar 80-120 m AGL, lebih rendah untuk kanopi rapat (maks. pabrikan 440 m; di atas 120 m wajib persetujuan ruang udara); Mapper+: 40-100 m (maks. 100 m)
Multi-return per pulseVoyager: hingga 32 echo; Mapper+: hingga 3 echo
Drone platformMapper+: DJI Matrice 350 RTK (muatan ±2,7 kg); Voyager (3,5 kg): multirotor heavy-lift
Flight time per battery25-40 min dengan payload LiDAR (bergantung drone dan muatan)
GNSS-INS integrasiVoyager: Applanix AP+ 30/50 AIR; Mapper+: Applanix APX-15 UAV (trajectory PPK)
RGB colorizationModul kamera YellowScan 61 MP (single) atau 26 MP (single/dual), opsional
Software processingYellowScan CloudStation, LASTools, TerraScan, Global Mapper Pro

Kalibrasi & QA

Total Station dan GPS dikalibrasi minimal setahun sekali di service center resmi pabrikan dan dicek internal per kuartal; LiDAR dan 3D scanner menjalani healthcheck tahunan di service resmi pabrikan, drone dikalibrasi IMU/kompas sebelum tiap mobilisasi. Sertifikat kalibrasi tersedia untuk diaudit. Pre-mobilization test wajib sebelum mobilisasi ke setiap proyek baru.

Surveyor ISI & Operator Terlatih

Laporan ditandatangani Kepala Surveyor terdaftar di ISI (Ikatan Surveyor Indonesia). Operator alat (YellowScan Voyager (Riegl VUX-120 sensor)) menjalani training internal platform, dengan log pengalaman proyek minimal 5 tahun.

Backup & Redundancy

Untuk proyek high-stakes, Ambaja sediakan backup alat on-site dan crew cadangan supaya minimal down-time jika primary alat trouble. Standar untuk proyek BUMN / time-critical.

// Use Case

Kapan butuh LiDAR YellowScan?

Pemetaan area berkanopi rapat (hutan, perkebunan), tambang, koridor. Berikut use case paling sering dipesan klien Ambaja — masing-masing punya konfigurasi alat, density target, dan output deliverable spesifik.

Perkebunan Sawit & Karet

Inventarisasi pohon (jumlah, tinggi, kerapatan), DTM jalan kebun untuk drainase, identifikasi tree gap. Standar PT perkebunan sertifikasi RSPO / FSC. Coverage 50-100 ha per hari operasional.

› Plantation

Hutan & Konsesi HTI/HPH

Biomass estimasi, jumlah pohon, koridor logging, identifikasi spesies (via height structure). Standar Ditjen Planologi Kehutanan. Output point cloud + DTM + canopy height model + report inventory.

› Forestry

Koridor Jalan Tol & Rel

Pemetaan koridor 10-50 km untuk feasibility study + preliminary design. Akurasi DTM cocok untuk grading & cross section. Combine flight beberapa hari untuk koridor panjang.

› Linear corridor

Tambang & Quarry

Volumetric stockpile, galian terbuka, atau timbunan dengan vegetasi sekitar. Point cloud ground dengan akurasi vertikal 5-10 cm (dengan GCP) meskipun ada pohon di tepi tambang. Frekuensi monitoring bulanan/kuartalan.

› Mining

Flood Mapping & Disaster

DTM bare-earth presisi untuk hydraulic modeling banjir, identifikasi area rawan, & assessment damage post-disaster. Output kompatibel dengan HEC-RAS, MIKE Flood, ArcGIS Flood Tools.

› Hydrology

Mangrove & Wetland

Mapping mangrove untuk EIA / environmental compliance — akses ground tidak feasible, LiDAR jadi satu-satunya cara. Output canopy height + DTM + species classification (combo multispectral).

› Environmental

// Workflow Operasional

Dari brief sampai delivery.

SOP standar Ambaja untuk operasi LiDAR YellowScan: 6 tahap dengan checkpoint PIC klien di setiap milestone. Tidak ada surprise di delivery final.

  1. 01

    Konsultasi & feasibility LiDAR

    Klien share koordinat lahan + tujuan survey + jenis vegetasi/kanopi. Tim cek feasibility LiDAR vs alternatif (photogrammetry kalau lahan terbuka, LiDAR kalau vegetasi padat), rekomendasi density target + AGL terbang, dan estimasi awal ±30 menit pada jam layanan chat (08.00–22.00 WIB). Recce lokasi wajib untuk LiDAR (cek obstacle, jalur terbang, posisi GCP); quotation final menyusul 1-2 hari kerja setelah kunjungan.

  2. 02

    Persetujuan terbang + flight planning

    Area dekat KKOP: permohonan persetujuan terbang ke Ditjen Hubud + koordinasi AirNav diajukan paling lambat 14 hari kerja sebelum terbang (PM 37/2020). H-3 sampai H-7: koordinasi pemilik lahan dan flight plan di UgCS Pro. Density flight: 50% side overlap antar strip untuk Voyager (cukup karena FOV-nya 100°).

  3. 03

    SPK + setup GCP + base station

    Setelah klien approve quote + SPK + DP 50%, mobilisasi LiDAR Voyager + drone heavy-lift + GCP markers (5-10 plate per 100 ha untuk verifikasi PPK trajectory) + GPS RTK base. Setup base di area sky-view bagus, jalankan minimum 30 menit static lock.

  4. 04

    Misi penerbangan LiDAR

    Take-off drone heavy-lift dengan LiDAR Voyager terpasang (sensor 3,5 kg tanpa baterai). Misi otomatis grid pattern AGL 80-120 m, speed 5-8 m/s. Cakupan 50-100 ha per hari kerja (bergantung cuaca, kerapatan target, dan pergantian baterai), sehingga lahan 100 ha umumnya selesai dalam 1-2 hari terbang.

  5. 05

    Post-processing PPK trajectory + LiDAR

    Raw data: (a) GNSS base + rover (RINEX), (b) IMU log (Applanix AP+), (c) LiDAR raw (Riegl RDB). Pipeline: PPK trajectory di POSPac MMS → align LiDAR strips di YellowScan CloudStation → output point cloud LAS unclassified → classification di LASTools/TerraScan (ground, vegetation, building, water).

  6. 06

    Delivery point cloud + DTM + report

    Output: point cloud LAS 1.4 classified (8-50 GB per proyek), DTM bare-earth GeoTIFF resolusi 25 cm, kontur AutoCAD DWG, report PDF dengan QA akurasi (RMSE terhadap check point independen); volumetrik/cut & fill dan inventory output (kebun/hutan) bila dipesan — dihitung terpisah. Delivery via Google Drive enterprise / SSD shipped.

// Output & Deliverable

Yang Anda terima.

Semua deliverable diserahkan via Google Drive (link aktif minimal 6 bulan); file besar bisa via WeTransfer atau SSD shipped (>50 GB). Raw data tersedia on-request untuk audit independen pihak ketiga.

Point Cloud LAS Classified

Primary deliverable

Point cloud LAS 1.4 standar dengan klasifikasi kelas standar ASPRS (ground, low/medium/high vegetation, building, water, road, noise). Density 100-300 titik/m² total, 50-200 ground after filter. File 8-50 GB.

DTM Bare-Earth GeoTIFF

Ground truth

Digital Terrain Model ground-level setelah filter vegetasi & bangunan. Resolusi 25 cm / 50 cm / 1 m. Akurasi vertikal deliverable 5-10 cm dengan GCP (spesifikasi pabrikan sensor 1 cm bukan akurasi DTM). Kompatibel ArcGIS / QGIS / Civil 3D.

Canopy Height Model

Forestry

Untuk kebun/hutan: peta canopy height (DSM - DTM) — tiap piksel = tinggi pohon. Visualisasi kerapatan & tinggi pohon. Berguna untuk inventory & biomass estimasi.

Kontur CAD DWG

Bare-earth contour

Garis kontur interval 0,5 m / 1 m generated dari DTM bare-earth. File AutoCAD 2018-2024. Akurat di area berhutan — bedanya dengan kontur dari photogrammetry yang tidak akurat di vegetasi.

Volumetric Report PDF

Quantitative

Untuk tambang/quarry: report volumetric dari ground point cloud — akurasi ±2-3% bahkan dengan vegetasi sekitar tambang. Komparasi periode (time-series). Submit-ready untuk operational mining.

Inventory Tree Report

Plantation/Forestry

Untuk kebun sawit/karet/hutan: jumlah pohon total, density per hektar, distribusi tinggi (height histogram), tree gap identification, dan canopy cover percentage. Format Excel + peta thematik PDF.

// Mini Case Study

LiDAR 78 Hektar Estate Riparian · Kabupaten Bogor.

Klien: PT pengembang estate agro di koridor sungai Cisadane (Kabupaten Bogor, kecamatan Tenjolaya), lahan 78 ha campuran kebun karet matang + hutan riparian + 3 jalur sungai kecil (canopy closure 80-90%) untuk feasibility study konversi sebagian lahan ke estate residensial. Brief utama: point cloud + DTM bare-earth + canopy height model + identifikasi tree gap + delineasi zona riparian buffer 30 m untuk lampiran AMDAL.

Tantangan: kanopi karet matang + multistrata vegetasi riparian = photogrammetry tidak feasible (DTM tidak akurat karena tidak lihat ground). Solusi: YellowScan Voyager terpasang di drone heavy-lift, 2 hari flying (AGL 100 m, side overlap 55%, speed 6 m/s) = 6 misi total dengan baterai ganda bawaan platform heavy-lift. Setup 6 GCP terestrial diukur GPS RTK Trimble R12 PPK untuk verifikasi akurasi. Processing 4 hari di workstation Xeon W + RTX 4090: PPK trajectory di POSPac MMS, alignment di YellowScan CloudStation, classification di LASTools + TerraScan manual cleanup. Cross-check di 6 GCP menunjukkan akurasi vertikal rata-rata ±6.5 cm bare-earth di area canopy 85% — sesuai target.

// Project Stats

LiDAR YellowScan · Project Stats

Luas lahan total78 hektar
Density ground (after filter)60 titik/m² rata-rata
Tree count inventory≈ 11.400 pohon karet + mixed
Akurasi tercapai (vertikal)±6.5 cm bare-earth
GCP verifikasi6 GCP (Trimble R12 PPK)
Alat utamaYellowScan Voyager + drone heavy-lift
Durasi flying2 hari (6 misi)
Lead time total10 hari (incl. processing + report)

Zona riparian buffer 30 m didelineasi presisi untuk lampiran AMDAL. DTM bare-earth dipakai PT klien untuk site grading plan estate residensial + drainase. Detail proyek disamarkan; nama PT & koordinat tersedia under NDA via WhatsApp.

// Harga Sewa & Operator

Pricing transparan.

Tarif dasar UAV & LiDAR ditampilkan publik; Total Station, GNSS, dan scan 3D dihitung per proyek. Komponen operasional (mobilisasi di luar Jabodetabek–Karawang–Cikarang, kondisi lahan spesifik, dokumen audit-grade) menyesuaikan — quote spesifik per project via WhatsApp setelah review brief teknis.

STANDAR

Mulai Rp 1jt /hektar (min. 25 ha)

YellowScan Voyager + drone heavy-lift + pilot terlatih + post-processing + delivery point cloud + DTM + kontur. GCP dihitung terpisah per titik; mobilisasi Jabodetabek–Karawang–Cikarang termasuk.

  • · YellowScan Voyager (Riegl VUX-120)
  • · Akurasi vertikal 5-10 cm (dengan GCP)
  • · Density 100-200 titik/m² (vegetasi padat hingga 300)
  • · Point cloud LAS classified
  • · DTM bare-earth + kontur
  • · GCP dihitung terpisah per titik
Populer

LAHAN LUAS & MULTI-SENSOR

Custom quote per proyek

Lahan luas 200+ ha atau combo LiDAR + photogrammetry RGB + multispectral untuk perkebunan / hutan / koridor.

  • · LiDAR + RGB colorization
  • · Combo dengan multispectral (NDVI)
  • · Inventory tree report
  • · Biomass estimasi
  • · Time-series monitoring
  • · Satu quotation & SPK — harga tiap layanan sesuai tarif publish

OPERASIONAL

Menyesuaikan per project

Komponen di luar tarif standar — dihitung terpisah sesuai kondisi lokasi & izin yang dibutuhkan.

  • · Mobilisasi di luar Jabodetabek–Karawang–Cikarang
  • · Persetujuan terbang Ditjen Hubud + koordinasi AirNav (permohonan ≥ 14 hari kerja)
  • · Akses lokasi remote dalam coverage (akomodasi crew)
  • · AGL khusus <60 m (vegetasi ekstrem)
  • · Density custom >300 titik/m²
  • · Audit-grade documentation BUMN

+ Invoice resmi e-Faktur Pajak (harga belum termasuk PPN 11%) · Termin DP 50% + pelunasan 50% sebelum kick-off survei (default Syarat & Ketentuan; termin lain bila disepakati di SPK) · Lihat harga lengkap ukur tanah →

// FAQ LiDAR YellowScan

Yang sering ditanya soal LiDAR YellowScan.

Apa beda LiDAR vs drone photogrammetry & kapan butuh LiDAR?

Drone photogrammetry: ekonomis (mulai Rp 500rb/ha untuk pemetaan 2D dan Rp 750rb/ha untuk 3D, minimum 10 ha; semua tarif di jawaban ini belum termasuk PPN 11%), akurat di lahan terbuka (3-5 cm dengan titik kontrol), output orthomosaic + DSM (top of canopy). Limitasi: di area vegetasi padat, DTM (ground filtered) tidak reliable karena tidak ada visual ke ground. LiDAR: tarif per hektar ±1,3-2x fotogrametri (mulai Rp 1 jt/ha, minimum 25 ha, GCP dihitung terpisah), akurasi vertikal deliverable 5-10 cm dengan GCP, termasuk di area bervegetasi, output point cloud ground-truth + DTM bare-earth. Kapan butuh LiDAR: (1) area dengan kanopi 30%+ tertutup pohon (sawit, karet, hutan, mangrove); (2) volumetric tambang dengan vegetasi sekitar yang noise photogrammetry; (3) survey koridor panjang (jalan tol/rel) dengan section berhutan; (4) flood mapping yang butuh DTM presisi untuk modeling. Kapan cukup photogrammetry: lahan terbuka, kawasan industri, kebun jagung/tebu (kanopi rendah), atau monitoring konstruksi (DSM cukup). Ambaja konsultasi pilihan optimal berdasarkan brief proyek + foto kondisi lahan dari Google Earth.

Berapa coverage harian LiDAR & berapa lead time delivery?

Coverage operasional LiDAR Ambaja: tipikal 50-100 ha per hari kerja (dibatasi cuaca, pergantian baterai, dan setup GCP/base). Untuk lahan 500 ha = 5-10 hari flying. Lead time delivery total: (1) Hari 1-2 persiapan + setup GCP/base (area KKOP: persetujuan terbang diajukan paling lambat 14 hari kerja sebelum terbang, di luar hitungan ini); (2) Hari 3-7 flying (tergantung luas); (3) Hari 8-12 processing PPK + LiDAR + classification (compute intensive, butuh workstation high-end); (4) Hari 13-15 drafting CAD + report + QA. Untuk lahan 100 ha standar: 8-12 hari total. Untuk 500 ha kompleks: 18-25 hari. Untuk proyek time-critical, kami punya 2 workstation processing paralel sehingga bisa kompres ke 60-70% timeline standar; jadwal percepatan dikonfirmasi di quotation.

Apakah akurasi LiDAR Voyager di brosur (1 cm) sama dengan akurasi hasil survei?

Akurasi 1 cm (presisi 0,5 cm) adalah spesifikasi pabrikan Voyager pada kondisi ideal. Akurasi vertikal deliverable Ambaja 5-10 cm dengan GCP, dilaporkan sebagai RMSE terhadap check point independen. Untuk klien yang butuh audit teknis (BUMN, mining company, environmental compliance, riset universitas), Ambaja sediakan: (1) Sertifikat akurasi dari YellowScan factory (boresight calibration date); (2) Sertifikat kalibrasi Applanix AP+ IMU; (3) Raw RINEX base + IMU + LiDAR data on-request untuk audit independen; (4) Cross-check di 5-10 check point terestrial yang diukur GPS RTK/PPK (presisi titik 2-3 cm) sebagai validasi; (5) Report processing dengan parameter step-by-step yang reproducible; (6) Profil surveyor terdaftar ISI + bukti registrasi drone resmi + log book terbang. Semua data point cloud LAS dilengkapi flag GPS time & epoch untuk traceability — bisa di-cross-reference dengan log timestamp.

Lahan tertutup hutan rapat — apakah LiDAR bisa lihat ground 100%?

Tidak 100% — tergantung density kanopi. Di hutan tropis dengan canopy closure 80-90% (mis. zona perkebunan & hutan riparian di koridor Kabupaten Bogor selatan, Tenjolaya, atau lahan berhutan di Karawang-Cikarang), typical 1-5% pulse Voyager mencapai ground (last return). Untuk dapat density ground 50 titik/m² after filter, total pulse acquired harus 1.000-5.000 titik/m² — itu sebabnya Voyager dengan 1.5 juta pulse/sec efektif. Strategi Ambaja untuk area super-rapat: (1) AGL diturunkan ke 60-80 m (lebih banyak return per area, trade-off coverage lebih kecil); (2) Speed flight diperlambat (5 m/s vs standar 8 m/s); (3) Overlap antar strip ditingkatkan 60-70%; (4) Pakai sensor Voyager (hingga 32 echo per tembakan) bukan Mapper+ (hingga 3 echo). Hasil: density ground 30-80 titik/m² di hutan rapat, sufficient untuk DTM resolusi 50 cm. Untuk lahan ekstrem (mangrove rapat low altitude di pesisir Jakarta Utara/Tangerang), kami konsultasi feasibility & set expectation akurasi sebelum SPK.

Berapa biaya LiDAR drone vs Total Station + GPS RTK manual?

Comparison untuk lahan 100 ha hutan/kebun tropis (semua angka belum termasuk PPN 11%): (1) LiDAR YellowScan Voyager — biaya ± Rp 100jt (Rp 1jt/ha × 100 ha, minimum 25 ha; alat + operator + processing) ditambah GCP yang dihitung terpisah per titik, lead time ±8-12 hari, deliverable point cloud + DTM + kontur akurat di vegetasi; (2) Total Station + GPS RTK manual — quote per proyek dan umumnya jauh lebih mahal karena butuh clearing jalur pengukuran di hutan serta crew besar 2-3 squad paralel selama 30-45 hari, lead time 6-10 minggu, deliverable point manual sparse (DTM kurang akurat di hutan); (3) Drone photogrammetry — biaya Rp 50-75jt, lead time 5-7 hari, tapi DTM tidak akurat di hutan (hanya DSM top of canopy). Untuk lahan terbuka berapa pun luasnya, UAV pemetaan (minimum 10 ha) atau Total Station (lahan kecil) lebih ekonomis. Untuk lahan berhutan / vegetasi padat / koridor panjang yang bervegetasi, LiDAR ROI lebih bagus — kombinasi akurasi DTM + speed + total cost end-to-end.

Apakah Ambaja menyediakan pilot dan kelengkapan operasi untuk LiDAR drone?

Ya, mandatory. Operasi LiDAR YellowScan butuh: (1) Drone multirotor heavy-lift dengan sensor terpasang — unit drone teregistrasi resmi dan dioperasikan pilot terlatih Ambaja untuk platform tersebut; (2) Insurance liability third-party hingga Rp 200 juta (cover damage to property/person); (3) Persetujuan terbang Ditjen Perhubungan Udara dengan koordinasi AirNav Indonesia untuk area KKOP / ruang udara terkontrol (permohonan paling lambat 14 hari kerja sebelum terbang sesuai PM 37/2020); (4) Pre-flight safety check standar SOP Ambaja: battery health, motor, prop, RTK fix, sensor LiDAR alignment, IMU health, GNSS sky-view. Pilot LiDAR Ambaja menjalani training internal platform dan mencatat log book terbang dengan payload LiDAR. Semua kredensial bisa diaudit klien BUMN/perbankan on-request.

Surveyor ISI · Alat Kalibrasi

Sewa
LiDAR YellowScan.

Brief proyek 5 menit: koordinat lokasi, luas / scope, target akurasi. Tim balas dengan estimasi tarif, lead time, dan konfigurasi alat optimal dalam <30 menit jam kerja. Konsultasi gratis untuk pilih method optimal (LiDAR YellowScan vs alat alternatif).

// Info Order LiDAR YellowScan

Brand & Model

YellowScan Voyager (Riegl VUX-120 sensor)

Akurasi

5-10 cm vertikal dengan GCP (spek pabrikan Voyager 1 cm) · density 100-200 titik/m²

Coverage Area

Jabodetabek + Karawang & Cikarang + Nasional

WhatsApp

+62 822 2055 5035

› Response < 30 menit jam kerja

← Hub alat ukur tanah: 5 instrumen presisi Ambaja

Lihat Semua Alat
WhatsApp