Lompat ke konten
Ambaja.
Panduan · Ukur Tanah

Proses Survey Lahan Developer — Step by Step

Dari kick-off meeting hingga deliverable akhir, survey lahan developer melewati 8 fase berurutan: data sekunder, recon, pemasangan benchmark, boundary, topografi & kontur, soil investigation, stake-out, sampai serah terima DWG. Panduan ini membedah setiap langkah dengan output, durasi, toleransi, dan checklist agar proyek perumahan atau kawasan Anda tidak salah urut.

Total Fase
8 Langkah
Siklus 5 ha
1–3 Minggu
Kontur
0,25–0,5 m
Update
Oktober 2026

Dasar keputusan dan batas sumber

Dalam proses survey lahan developer, Perka BIG 15/2014 menjadi baseline merencanakan kelas ketelitian dan mengevaluasi keluaran pemetaan.

  • Peraturan Kepala BIG Nomor 15 Tahun 2014 — Pedoman Teknis Ketelitian Peta Dasar

    Badan Informasi Geospasial. Acuan kelas ketelitian dan evaluasi hasil pemetaan untuk memilih metode serta keluaran survey. Sebagaimana diubah Peraturan BIG 6/2018 (Tabel 1): ketelitian horizontal CE90 kelas 1, 2, dan 3 sebesar 1,5 m, 3 m, dan 4,5 m pada skala 1:5.000, serta 3 m, 6 m, dan 9 m pada skala 1:10.000. Juga Tabel 1 (6/2018) untuk skala besar: 1:5.000 interval kontur 2 m, kelas 1/2/3 CE90 1,5/3/4,5 m dan LE90 1/1,5/2 m; 1:2.500 interval kontur 1 m, CE90 0,75/1,5/2,3 m dan LE90 0,5/0,75/1 m; 1:1.000 interval kontur 0,4 m, CE90 0,3/0,6/0,9 m dan LE90 0,2/0,3/0,4 m; Tabel 2 (6/2018): horizontal 0,3/0,6/0,9 mm × bilangan skala, vertikal kelas 1 = 0,5 × interval kontur, kelas 2 = 1,5 × kelas 1, kelas 3 = 2 × kelas 1. Juga definisi ketelitian peta dan RMSE sebagai akar rata-rata kuadrat selisih terhadap koordinat dari sumber independen yang akurasinya lebih tinggi, CE90 = 1,5175 × RMSEr dan LE90 = 1,6499 × RMSEz mengacu US NMAS, kewajiban pernyataan ketelitian horizontal, vertikal, dan kelasnya di metadata dan sajian kartografis, syarat titik uji (jelas teridentifikasi di lapangan dan peta, relatif tetap, tersebar merata), serta contoh uji 10 titik skala 1:5.000 (RMSEr 0,81 m, CE90 1,23 m; RMSEz 0,70 m, LE90 1,15 m).

Ringkasan Eksekutif

Survey Lahan Bukan Satu Pekerjaan — Tapi Delapan

Banyak developer pemula menganggap “survey lahan” sebagai satu aktivitas tunggal: panggil surveyor, ukur, terima gambar. Padahal dalam praktik proyek perumahan dan kawasan, survey lahan adalah rangkaian minimal delapan fase berurutan yang saling bergantung. Salah urut — misalnya memetakan topografi sebelum benchmark terpasang stabil — bisa membuat seluruh data harus diukur ulang.

Konsekuensi salah urut bukan sekadar buang waktu. Boundary yang tidak dicocokkan ke Gambar Ukur BPN bisa membuat luas iklan berbeda dari luas legal; topografi tanpa kontur rapat membuat perhitungan cut & fill meleset puluhan ribu meter kubik; dan stake-out yang dilakukan tanpa benchmark referensi membuat pondasi bergeser dari rencana. Setiap fase punya output, toleransi, dan dependensi yang harus dijaga.

Panduan ini menyusun urutan baku yang Ambaja gunakan untuk proyek developer di Jabodetabek, Karawang, dan Cikarang — lengkap dengan tabel fase, estimasi durasi, checklist dokumen pra-survey, dan rujukan standar teknis (SNI, sistem datum nasional). Tujuannya satu: agar Anda tahu apa yang Anda bayar, kapan tiap deliverable muncul, dan pertanyaan apa yang harus diajukan ke surveyor sebelum mobilisasi.

Peta Jalan · 8 Fase

Alur Kerja End-to-End dalam Satu Tabel

Tabel di bawah meringkas urutan kerja, output utama, estimasi durasi, dan alat tipikal untuk setiap fase. Durasi mengacu pada lahan tipikal 1–5 hektar di Jabodetabek; area lebih luas atau bervegetasi akan memperpanjang fase 5 dan 6.

FaseOutput UtamaDurasiAlat Tipikal
1Kick-off & Data Sekunder
Scope, datum, KAK/TOR, peta dasar BIG1–2 hariDesk study
2Reconnaissance Lapangan
Berita acara recon, foto, sketsa akses1 hariGNSS handheld
3Pemasangan Kontrol & Benchmark
BM beton + koordinat SRGI2013/WGS84 · UTM1–2 hariGPS RTK / static
4Boundary Survey (Batas)
Patok batas + luas terukur + GU/SHM cek1–3 hariGPS RTK / Total Station
5Pemetaan Topografi & Kontur
DTM, kontur 0,25–0,5 m, situasi2–5 hariRTK / TS / LiDAR drone
6Soil Investigation
Data sondir (qc), bor dangkal/dalam, N-SPT2–4 hariSondir 2,5 t / bor mesin
7Stake-out / Setting-out
Marking as bangunan, grid kolom, elevasi rencana di lapanganSesuai paketTotal Station / RTK
8Deliverable & QC
DWG, PDF, LAS, report koordinat + soil3–7 hariAutoCAD / GIS

Durasi adalah hari kerja lapangan + pengolahan, indikatif untuk lahan 1–5 ha. Fase 7 (stake-out) tergantung paket konstruksi dan biasanya dipisah dari survey awal. Sistem koordinat default Jabodetabek: SRGI2013/WGS84 · UTM Zona 48S.

Bagian 1 · Fase 1–2

Kick-off, Data Sekunder & Reconnaissance

Fase 1 — Kick-off & data sekunder dimulai jauh sebelum tim menginjak lahan. Di tahap ini surveyor dan developer menyepakati scope: apakah hanya boundary, atau full topografi + soil? Lalu ditetapkan datum dan sistem proyeksi (untuk Jabodetabek hampir selalu SRGI2013/WGS84, UTM Zona 48S), skala gambar, interval kontur, serta deadline perizinan yang dikejar (PKKPR, KRK, hingga PBG). Surveyor mengumpulkan data sekunder: peta dasar Rupabumi Indonesia (RBI) dari Badan Informasi Geospasial, peta bidang dari kantor pertanahan, dan Gambar Ukur lama bila ada.

Fase 2 — Reconnaissance (recon) adalah kunjungan awal untuk membaca medan: titik akses kendaraan, kondisi vegetasi, keberadaan bangunan/utilitas eksisting, lokasi titik referensi terdekat, dan potensi penghalang sinyal GPS. Recon yang baik mencegah kejutan biaya — misalnya menemukan separuh lahan tertutup kebun rapat (yang berarti GPS RTK gagal lock dan harus ganti ke LiDAR atau Total Station). Output recon: berita acara, dokumentasi foto, dan sketsa rencana sebaran titik kontrol.

Checklist Dokumen Pra-Survey (Siapkan Developer)

  • Sertifikat SHM / HGB (untuk verifikasi luas legal) atau girik — sejak 2 Februari 2026 hanya petunjuk, bukan bukti hak
  • Gambar Ukur (GU) atau Surat Ukur dari BPN jika sudah ada
  • Peta bidang / peta blok dari kantor pertanahan setempat
  • Site plan / masterplan rencana (jika konsep awal sudah ada)
  • Koordinat benchmark referensi terdekat (BIG / titik orde sebelumnya)
  • Izin akses lokasi + kontak penjaga / pemilik lahan tetangga
  • Kebutuhan datum & sistem proyeksi (default: SRGI2013/WGS84 · UTM Zona 48S untuk Jabodetabek)
  • Deadline target perizinan (PKKPR / KRK / PBG) yang harus dikejar
Bagian 2 · Fase 3–4

Benchmark, Kontrol Geodetik & Boundary Survey

Fase 3 — Pemasangan kontrol & benchmark adalah fondasi seluruh proyek. Tim memasang minimal dua patok beton Benchmark (BM) di lokasi stabil dan bebas gangguan, lalu menentukan koordinat (X, Y) dan elevasi (Z)-nya dengan GPS RTK atau pengamatan statik yang diikat ke jaring referensi nasional. Dua BM dipasang agar bisa saling cek (back-sight) dan sebagai cadangan jika satu hilang saat konstruksi. Semua pengukuran berikutnya mengacu ke BM ini — inilah “jangkar” yang membuat data bisa direplikasi berbulan-bulan kemudian saat stake-out.

Fase 4 — Boundary survey mengukur batas lahan di lapangan: setiap sudut bidang diukur koordinatnya, dipatok, lalu luas dihitung dari poligon tertutup. Idealnya hasil ukur dicocokkan dengan Gambar Ukur (GU) atau Surat Ukur dari BPN. Selisih luas terukur vs luas sertifikat harus diklarifikasi sebelum lanjut — ini titik paling sering memicu sengketa saat akuisisi lahan. Untuk lahan terbuka 5–50 ha, GPS RTK paling efisien; untuk kavling padat atau yang terhalang bangunan, Total Station lebih andal karena tidak butuh open sky. Lihat panduan pemilihan alat untuk detailnya.

Konteks Toleransi & Standar
  • Spesifikasi pabrikan GPS RTK: ±8 mm horizontal, ±15 mm vertikal (+ 1 ppm) pada kondisi open sky.
  • Akurasi Total Station titik tunggal: 1–3 mm horizontal — kelas untuk setting-out struktur.
  • Pengukuran kadastral untuk sertifikat mengacu ketentuan teknis pertanahan (PMNA/Ka.BPN) dan dilakukan Kantor Pertanahan atau KJSB — di luar layanan Ambaja; survei batas Ambaja adalah referensi teknis pendukung.
Bagian 3 · Fase 5–6

Topografi, Kontur & Soil Investigation

Fase 5 — Pemetaan topografi menghasilkan model relief lahan. Surveyor mengambil ribuan spot height (titik tinggi) pada grid teratur plus break-line di perubahan kemiringan (tepi jalan, bibir saluran, kaki tanggul), lalu membangun DTM (Digital Terrain Model) dan menarik garis kontur. Interval kontur untuk lahan developer umumnya 0,25 m (relief landai, butuh presisi cut & fill) hingga 0,5 m (lahan bergelombang). Untuk lahan terbuka luas, UAV pemetaan (minimum 10 ha) sudah cukup; untuk lahan bervegetasi, LiDAR drone unggul karena menembus celah kanopi dan memetakan 50–100 hektar per hari kerja (minimum 25 ha); untuk lahan kecil dan presisi tinggi, Total Station atau RTK grid lebih ekonomis. Output situasi memuat semua objek eksisting: bangunan, pohon besar, tiang, gorong-gorong, utilitas tampak.

Fase 6 — Soil investigation menyelidiki daya dukung tanah. Dua metode utama: sondir (CPT) yang menekan konus ke tanah untuk membaca perlawanan ujung (qc) dan friksi — alat ringan 2,5 ton lazim untuk perumahan, mencapai 15–25 m hingga lapisan keras; dan boring yang mengambil sampel tanah berlapis serta uji SPT (Standard Penetration Test) untuk nilai N pada bangunan berat. Patokan jumlah titik yang lazim dipakai adalah Tabel 2 SNI 8460:2017 (Persyaratan Perancangan Geoteknik); jumlah dan kedalaman titik ditetapkan konsultan struktur berdasarkan beban rencana, bukan ditebak surveyor. Data soil ini menentukan tipe pondasi, sehingga ikut menentukan biaya konstruksi.

Kontur 0,25 m

Lahan landai, butuh presisi cut & fill tinggi & perencanaan drainase detail.

Kontur 0,5 m

Standar umum lahan bergelombang — keseimbangan detail vs efisiensi survey.

Sondir 2,5 Ton

CPT ringan untuk perumahan; baca qc hingga lapisan keras (umumnya 15–25 m).

Bagian 4 · Fase 7–8

Stake-out Konstruksi & Deliverable Akhir

Fase 7 — Stake-out (setting-out) adalah kebalikan dari survey awal: jika fase 4–5 “membaca” lahan menjadi peta, stake-out “menggambar” desain kembali ke lahan. Setelah siteplan final, surveyor menurunkan titik-titik rencana — as bangunan, sudut pondasi, grid kolom, elevasi finish floor — menjadi marking fisik (patok, paku, cat) di lokasi sebenarnya, semuanya diikat ke benchmark fase 3. Toleransi setting-out struktur jauh lebih ketat dari survey topografi (sering milimeter–sentimeter), sehingga Total Station menjadi alat pilihan. Stake-out biasanya kunjungan terpisah, menjelang mulai konstruksi.

Fase 8 — Deliverable & QC menutup siklus. Data lapangan diolah menjadi gambar situasi & topografi dalam DWG (AutoCAD) dan PDF, tabel koordinat patok & BM, peta boundary berisi luas terukur, dan — bila pakai drone — point cloud LAS, DTM/DSM GeoTIFF, serta ortofoto. Laporan soil (grafik sondir, log bor, N-SPT) dilampirkan terpisah. Sebelum serah terima, dilakukan QC: cross-check titik independen, verifikasi datum & skala di kop gambar, dan kelengkapan legenda. Deliverable inilah yang menjadi single source of truth bagi arsitek, sipil, dan MEP — sehingga kualitasnya menentukan kelancaran seluruh tahap desain berikutnya.

Best Practice · Hindari Kesalahan

6 Kesalahan Urutan Yang Sering Bikin Survey Diulang

#1Topografi sebelum benchmark stabil terpasang

Tanpa BM permanen, data topografi tidak punya jangkar. Saat tim kembali untuk stake-out, posisi bisa bergeser dan seluruh marking salah. Pasang minimal 2 BM dulu (fase 3) sebelum apa pun.

#2Boundary tidak dicocokkan ke Gambar Ukur BPN

Luas terukur lapangan vs luas sertifikat bisa berbeda. Bila selisih tidak diklarifikasi di awal, masalah baru muncul saat sertifikasi atau jual-beli kavling — biaya koreksi jauh lebih mahal.

#3Interval kontur terlalu kasar untuk cut & fill

Kontur 1 m di lahan landai membuat estimasi volume tanah meleset puluhan ribu m³. Untuk perhitungan cut & fill yang akurat, pakai interval 0,25–0,5 m sesuai relief.

#4Soil investigation diabaikan sampai desain jadi

Tipe pondasi (dangkal vs tiang pancang) ditentukan daya dukung tanah. Bila soil baru disurvey setelah desain struktur final, sering harus revisi total — sondir/boring idealnya paralel dengan topografi.

#5Pakai GPS RTK di bawah kanopi tanpa test sinyal

Di kebun/hutan rapat, RTK drop ke float solution (akurasi desimeter, bahkan bisa sampai meter) — tidak layak untuk topografi. Recon (fase 2) harus mengidentifikasi area bervegetasi agar metode diganti ke LiDAR/Total Station.

#6Tidak menyepakati datum & sistem proyeksi di awal

Data yang dikirim dalam datum berbeda dari yang dipakai konsultan lain bikin layer tidak overlay. Tetapkan SRGI2013/WGS84 · UTM Zona 48S (Jabodetabek) sejak kick-off agar semua disiplin sinkron.

Estimasi · Biaya & Durasi

Gambaran Biaya & Durasi di Jabodetabek

Angka berikut adalah tarif publish dan durasi kerja Ambaja — bukan quote tetap. Biaya aktual tergantung luas, akses lokasi, kerapatan vegetasi, dan deliverable. Untuk hitungan presisi, kirim brief proyek dan lihat halaman harga.

Boundary + Topografi

Topografi mulai Rp 250/m² (1–5 ha: Rp 200–275/m²; di atas 5 ha quote), minimum Rp 1,5 juta untuk lahan di bawah 5.000 m². Boundary Rp 500/m² (min 1.000 m²; di atas 1 ha quote). UAV pemetaan mulai Rp 500 rb/ha, model 3D fotogrametri Rp 750 rb/ha (min 10 ha); LiDAR Rp 1 jt/ha (min 25 ha, GCP terpisah). Semua harga belum termasuk PPN 11%.

Soil Investigation

Sondir Rp 1,5 jt/titik sampai kedalaman 20 m, minimal 3 titik per lokasi. Kedalaman 20–30 m tetap sondir mekanik (meter tambahan dihitung terpisah); di atas 30 m atau tanah keras: sondir hidrolik 10 ton atau bor mesin (SPT) di luar layanan Ambaja, dikerjakan penyedia lain.

Siklus Total (5 ha)

Lapangan 4–8 hari + pengolahan 3–7 hari. Total realistis 1–3 minggu hingga deliverable final.

FAQ · 8 Pertanyaan

Pertanyaan Yang Sering Ditanyakan

Berapa lama total proses survey lahan developer dari awal sampai deliverable?

Untuk kavling 1–5 hektar di Jabodetabek, total siklus lapangan + pengolahan biasanya 1–3 minggu. Boundary dan topografi lahan kosong 5 ha selesai 2–4 hari lapangan, soil investigation 2–4 hari, dan pengolahan data ke DWG/PDF 3–7 hari kerja. Untuk kawasan 25–80 hektar bervegetasi, jadwal bergeser ke 3–6 minggu — terutama jika memakai LiDAR drone (minimum 25 ha) yang butuh post-processing 2–5 hari; di bawah 25 ha, pilihannya topografi terestris atau UAV (minimum 10 ha). Faktor cuaca (musim hujan), akses lokasi, dan kompleksitas legal batas sering jadi penentu durasi sesungguhnya.

Apa bedanya boundary survey dengan survey topografi — apakah harus dua-duanya?

Boundary survey mengukur batas lahan di lapangan (patok, luas, koordinat sudut) sebagai referensi teknis dan idealnya dicocokkan dengan Gambar Ukur BPN; penetapan batas legal tetap oleh Kantor Pertanahan atau KJSB. Survey topografi memetakan relief permukaan: titik tinggi, kontur, situasi (jalan, saluran, pohon, bangunan eksisting). Untuk developer, dua-duanya hampir selalu dibutuhkan: boundary untuk kepastian luas & batas saat akuisisi/sertifikasi, topografi untuk perencanaan cut & fill, drainase, dan tata letak kavling. Keduanya sering dikerjakan dalam satu mobilisasi tim untuk menghemat biaya.

Berapa biaya jasa survey lahan per hektar atau per meter persegi di Jabodetabek?

Tarif publish Ambaja (belum termasuk PPN 11%): survey topografi mulai Rp 250 per m² (lahan 1–5 ha Rp 200–275 per m²; di atas 5 ha quote per proyek) dengan minimum biaya proyek Rp 1,5 juta untuk lahan di bawah 5.000 m², boundary Rp 500 per m² (minimum 1.000 m²; lahan di atas 1 ha quote per proyek), UAV pemetaan mulai Rp 500 rb per hektar dan model 3D fotogrametri mulai Rp 750 rb per hektar (minimum 10 ha), dan LiDAR drone Rp 1 jt per hektar (minimum 25 ha; GCP dihitung terpisah). Boundary dan topografi sering dikerjakan dalam satu mobilisasi. Soil investigation dihitung per titik: sondir mekanik 2,5 ton Rp 1,5 jt per titik sampai kedalaman 20 m (20–30 m tetap dikerjakan Ambaja, meter tambahan dihitung terpisah), minimal 3 titik per lokasi; untuk kedalaman di atas 30 m atau tanah keras dari permukaan, sondir hidrolik 10 ton atau bor mesin (SPT) berada di luar layanan Ambaja dan dikerjakan penyedia lain bila diperlukan. Angka ini indikatif — quote final tergantung luas, akses, dan deliverable.

Berapa banyak titik sondir/boring yang dibutuhkan untuk lahan developer?

Untuk gedung, SNI 8460:2017 (Persyaratan perancangan geoteknik) Tabel 2 menetapkan jumlah minimum titik penyelidikan berdasarkan jumlah lantai dan luas: 1 titik per 300 m² dengan minimum 3 titik per menara untuk gedung 8 lantai ke atas, 1 titik per 400 m² dengan minimum 2 titik per gedung untuk 4–7 lantai, dan 1 titik per 600 m² untuk gedung di bawah 4 lantai atau pabrik (bangunan di bawah 4 lantai bertapak di atas 25.000 m²: 1 titik per 2.500 m²); kedalamannya mengikuti Gambar 1 standar yang sama. Rumah tinggal dikecualikan dari kategori gedung di bawah 4 lantai, sehingga untuk perumahan landed konsultan geoteknik menyebar titik sondir di tapak sebagai gambaran awal daya dukung — Ambaja minimal 3 titik per lokasi — ditambah boring dalam (di luar layanan Ambaja) di lokasi bangunan berat seperti rumah susun, club house, dan IPAL. Konsultan struktur yang menetapkan kebutuhan final — surveyor menyediakan data, bukan menentukan jumlah titik sendiri.

Apa itu benchmark (BM) dan kenapa harus dipasang lebih dulu?

Benchmark adalah titik referensi permanen — biasanya patok beton dengan baut/marka — yang punya koordinat (X, Y) dan elevasi (Z) terikat ke sistem nasional. Semua pengukuran lain (boundary, topografi, stake-out) mengacu ke BM ini supaya konsisten dan bisa direplikasi di kemudian hari saat konstruksi. Tanpa BM yang stabil, data survey tidak punya 'jangkar' — saat tim kembali untuk stake-out, posisi bisa bergeser. Untuk proyek developer minimal dipasang 2 BM agar bisa saling cek (back-sight), idealnya tersebar di sudut-sudut strategis tapak.

Apa saja deliverable akhir yang seharusnya saya terima dari survey lahan?

Paket deliverable standar developer biasanya berisi: (1) gambar situasi & topografi dalam format DWG (AutoCAD) + PDF dengan kontur 0,25–0,5 m; (2) tabel koordinat patok batas & benchmark (X, Y, Z) dalam sistem SRGI2013/WGS84 · UTM; (3) peta boundary dengan luas terukur; (4) bila LiDAR/drone: point cloud LAS, DTM/DSM GeoTIFF, dan ortofoto; (5) laporan soil investigation (grafik sondir qc, log bor, nilai N-SPT); (6) berita acara & dokumentasi foto. Pastikan datum, skala, dan legenda jelas di kop gambar — ini yang akan dipakai arsitek dan sipil downstream.

Kapan stake-out (setting-out) dilakukan — sebelum atau sesudah desain?

Stake-out dilakukan setelah desain/siteplan final, menjelang konstruksi. Urutannya: survey awal (boundary + topografi) menghasilkan peta dasar, lalu arsitek/sipil membuat desain di atas peta itu, kemudian surveyor 'menurunkan' titik-titik desain (as bangunan, sudut pondasi, grid kolom, elevasi rencana) ke lapangan dengan marking fisik. Jadi survey awal dan stake-out adalah dua kunjungan berbeda dengan tujuan berkebalikan: yang pertama membaca lahan, yang kedua menggambar desain ke lahan. Toleransi setting-out struktur umumnya jauh lebih ketat (milimeter–sentimeter) sehingga sering pakai Total Station.

Apakah Ambaja melayani survey lahan lengkap end-to-end?

Ya — Ambaja melayani rangkaian lengkap untuk lahan developer di Jabodetabek, Karawang, dan Cikarang: boundary survey, pemetaan topografi (Total Station, GPS RTK, hingga LiDAR drone untuk area luas bervegetasi), serta sondir mekanik 2,5 ton untuk penyelidikan tanah (bor dan SPT di luar layanan Ambaja). Deliverable diserahkan dalam DWG, PDF, dan format point cloud bila relevan. Kirim luas lahan, lokasi pin Google Maps, dan deliverable yang dibutuhkan via WhatsApp — tim akan balas dengan rekomendasi metode + estimasi biaya yang dikutip per layanan (topografi dan boundary per m², UAV/LiDAR per hektar, sondir per titik).

Catatan standar: SNI 8460:2017 (Persyaratan perancangan geoteknik) di katalog BSN kini berstatus tidak berlaku dan belum ada SNI penggantinya. Jumlah titik sondir di halaman ini memakai Tabel 2-nya sebagai patokan praktik; jumlah final ditetapkan perencana pondasi.

Pendalaman · Layanan & Harga

Mau lihat detail layanan ukur tanah atau hitung biaya per m²?

Panduan ini membahas alur prosesnya. Untuk paket layanan lengkap & rincian biaya per meter persegi, lanjut ke dua link berikut.

Bacaan Lanjutan
Mulai Survey Lahan?

Tim Ambaja Kerjakan Survey Lahan Anda, dari Boundary hingga Stake-Out.

Kirim brief proyek (luas lahan, lokasi pin, deliverable). Tim surveyor akan balas dengan rekomendasi metode, urutan fase, dan estimasi biaya per hektar untuk proyek developer Anda.

Belum yakin? Lihat portofolio proyek scaffolding & ukur tanah Ambaja dulu

Kontak Langsung

WhatsApp / Phone
+62 822 2055 5035
Email
sales@ambaja.co.id
Jam Operasi Sales
WA Sales 24/7 · Lapangan Sen–Sab 08–17
Gudang
Jl. Masjid As-Surur No. 49A, Kebon Jeruk, Jakarta Barat
WhatsApp