Lompat ke konten
Ambaja.
Analisis ROI Sewa vs Beli Scaffolding
Blog Scaffolding · Analisis Finansial

Analisis ROI Sewa vs Beli Scaffolding

18 Juli 2026 · Rendra Aditya Wicaksana · Long read 12 menit

Pertanyaan klasik di rapat budget kontraktor: sewa scaffolding terus-menerus, atau sekalian beli inventory sendiri? Artikel ini membongkar perhitungan ROI sebenarnya — bukan sekadar bandingkan harga beli vs sewa per bulan, tapi NPV, IRR, payback period, tax shield depresiasi, dan 5 skenario proyek riil Jabodetabek. Berbasis PSAK 16, PMK 96/2009, dan utilisasi lapangan dari 1.200+ proyek scaffolding Ambaja sejak 2019.

Break-even kasar

30-34 bln

utilisasi 100% (mustahil)

Break-even riil

5-6 thn

utilisasi 50-60%

Hidden cost ownership

18-28%

/tahun dari nilai aset

Threshold beli sehat

≥7.500

set-bulan/tahun pipeline

// Konteks

Bandingkan harga beli vs sewa per bulan adalah cara salah.

Di banyak rapat budget kontraktor, perhitungan "sewa vs beli" berhenti di satu slide: harga beli Frame Rp 800rb per set, sewa Rp 25rb per set per bulan — "jadi break-even 32 bulan, kalau proyek 3 tahun mending beli". Logika ini terlihat masuk akal, tapi mengabaikan minimum 7 variabel finansial yang membuat keputusan capex sebenarnya jauh lebih kompleks.

Tujuh variabel yang dilewatkan: (1) utilisasi efektif — scaffold tidak terpakai 365 hari, ada idle time, (2) biaya gudang dan tim ops yang melekat ke ownership, (3) tax shield penyusutan dan implikasi after-tax, (4) opportunity cost modal (WACC), (5) maintenance dan replacement parts, (6) nilai sisa aset di akhir umur ekonomis, dan (7) fleksibilitas cashflow saat pipeline turun. Salah satu saja meleset, hasil analisis bisa kebalik 180 derajat.

Artikel ini menyajikan model NPV-IRR utuh untuk Frame 1.700mm (pipa SNI 8987:2021) — sistem yang menyumbang ~60% volume scaffolding Jabodetabek. Disusun dengan asumsi discount rate WACC 12% (kontraktor mid-size Indonesia), umur ekonomis 8 tahun (sesuai PMK 96/2009 Aset Tetap Kelompok II), dan harga riil 2026. Closing dengan 5 skenario proyek nyata yang memetakan keputusan dari pure rental sampai akuisisi inventory penuh. Untuk hitungan dasar kuantitas, ada panduan tersendiri di cara hitung kebutuhan scaffolding; dan untuk benchmark harga sewa, lihat sewa Frame Ambaja vs paket sewa bulanan.

// Section 1 dari 5 — Variabel

Anatomi 7 variabel yang harus di-input.

Sebelum susun model NPV, semua variabel harus diestimasi dengan data realistis — bukan asumsi optimistis. Berikut 7 variabel dengan range empiris Jabodetabek 2026 yang bisa langsung Anda pakai sebagai baseline.

VariabelRange empiris Jabodetabek 2026Catatan model
Harga beli Frame 1.700mm baruRp 750.000 - 850.000 / set (pipa Ø42,7mm tebal 2,3mm galvanis G60 SNI 8987:2021).Pakai mid-point Rp 800rb. Tambah biaya kirim ke gudang Rp 30-50rb/set.
Tarif sewa Frame per bulanRp 22.000 - 28.000 / set / bulan (range volume 200-1.500 set, kontrak 3-12 bulan).Pakai Rp 25rb sebagai baseline rental Ambaja 2026.
Utilisasi tahunan40% - 75% — sangat dipengaruhi pipeline proyek dan staging antar-proyek.Sensitivitas paling tinggi. Test 50%, 60%, 70% sebagai skenario base/upside.
Biaya gudang ongoingSewa gudang Kebon Jeruk/Cibitung Rp 40-65rb/m²/bulan + 80-120 m² per 1.000 set.Rp 4-8jt/bulan ongoing untuk inventory 1.000 set Frame.
Tim gudang & ops2-3 orang × Rp 4,5-6jt/bulan + lembur peak season.Rp 11-18jt/bulan all-in. Tidak bisa di-cut saat inventory idle.
Maintenance & replacementCat anti-karat per 18-24 bulan Rp 8-12rb/set, locking pin 3-5% stok/tahun.Estimasi 6-9% per tahun dari nilai aset awal.
Discount rate (WACC)10% - 14% untuk kontraktor mid-size Indonesia (campuran utang 9% & equity 16-18%).Pakai 12% sebagai baseline. Cek struktur modal aktual.

[ Catatan CFO ]

Banyak proposal capex menulis utilisasi 90-100% di tahun pertama. Realita: rata-rata 50-65% untuk kontraktor mid-size dengan pipeline 3-5 proyek/tahun. Selalu uji 3 skenario — pesimis 45%, base 60%, optimis 75% — dan lihat di skenario mana keputusan flip. Kalau base case-nya tipis (NPV beli < 15% lebih untung dari sewa), jangan beli.

// Section 2 dari 5 — Worked Example

Worked example: 1.000 set Frame, 8 tahun.

Mari kita uji satu kasus konkret: kontraktor mid-size Jabodetabek ingin inventory 1.000 set Frame 1.700mm untuk pipeline 8 tahun ke depan. Asumsi utilisasi 60%, WACC 12%, tarif sewa Rp 25rb/set/bulan. Berikut breakdown cashflow tahunan kedua opsi.

Skenario BELI

  • CAPEX tahun 0 (1.000 set × Rp 800rb)−Rp 800,0 jt
  • Delivery + instal awal−Rp 35,0 jt
  • Biaya gudang per tahun (100 m² × Rp 55rb × 12)−Rp 66,0 jt/thn
  • Tim gudang ops (2 org × Rp 5jt × 13 bln)−Rp 130,0 jt/thn
  • Maintenance (7% × nilai aset)−Rp 56,0 jt/thn
  • Tax shield depresiasi (Rp 100jt × 22%)+Rp 22,0 jt/thn
  • Salvage value tahun 8 (35% × 800jt)+Rp 280,0 jt
  • Total PV cashflow (@WACC 12%)−Rp 1.952 jt

Catatan

Belum termasuk asuransi gudang (~0,3-0,5% nilai aset/tahun) dan risiko loss saat sub-rental ke vendor lain.

Skenario SEWA

  • CAPEX tahun 0Rp 0
  • Sewa unit (1.000 × Rp 25rb × 12 × 60% util)−Rp 180,0 jt/thn
  • Sewa aksesoris (~15% dari unit)−Rp 27,0 jt/thn
  • Delivery antar-proyek (4-6× / tahun)−Rp 9,0 jt/thn
  • Deposit refundable (cash tied 20% × 6 bln)−Rp 4,3 jt/thn opp cost
  • Tax deduction biaya sewa (× 22%)+Rp 48,0 jt/thn
  • Gudang & tim opsRp 0 (vendor cover)
  • Total PV cashflow (@WACC 12%)−Rp 855 jt

Hasil

Sewa lebih ekonomis Rp 1.097 jt dalam 8 tahun pada utilisasi 60%. Flip terjadi di utilisasi 82% (sangat sulit dicapai).

"Pada utilisasi 60%, beli scaffolding hampir 2× lebih mahal dari sewa dalam horizon 8 tahun — bahkan setelah memperhitungkan salvage value dan tax shield depresiasi."

— Hasil model NPV Frame 1.000 set, Jabodetabek 2026.

// Section 3 dari 5 — Beban Tersembunyi

8 hidden cost yang menggerus ROI beli.

Hampir setiap proposal capex scaffolding yang masuk meja kami untuk second opinion mengabaikan minimal 3 dari 8 hidden cost berikut. Gabungannya bisa 18-28% dari nilai aset per tahun — cukup besar untuk membalik kesimpulan NPV.

01

Gudang ongoing

Inventory 1.000 set Frame butuh minimum 80-120 m² gudang ber-atap dengan akses truk fuso. Tarif gudang industri Jabodetabek 2026: Kebon Jeruk/Cilandak Rp 55-65rb/m²/bulan, Cibitung/Cikarang Rp 35-50rb/m²/bulan. Total ongoing Rp 4-8 jt/bulan — TETAP keluar walau scaffold sedang idle 100%.

02

Tim gudang & ops

Loading, picking, QC unit kembali, stocking, dan inventory reconciliation butuh 2-3 orang permanen. Gaji + BPJS + tunjangan = Rp 4,5-6 jt/bulan per orang × 13 bulan (THR). Saat peak season (April-Oktober), butuh lembur atau tambahan tenaga harian Rp 150-250rb/orang/hari.

03

Maintenance & replacement

Cat anti-karat ulang per 18-24 bulan: Rp 8-12rb/set + downtime gudang 3-5 hari per batch. Locking pin & cross brace patah: 3-5% dari stok per tahun harus diganti @ Rp 35-65rb/pcs. Las ulang frame bengkok 1-2% stok/tahun @ Rp 80-150rb/set. Total: 6-9% nilai aset per tahun.

04

Transport antar-proyek

Pindahkan scaffold dari proyek A ke B = sewa armada (truk fuso atau ekspedisi). Kebon Jeruk ke Cikarang: Rp 1,2-2 jt one-way. Internal Jabodetabek (Tangerang, Bekasi, Bogor): Rp 800rb-1,5jt. Karawang industrial belt: Rp 1,5-2,5 jt one-way. Kalau punya armada sendiri: butuh CAPEX truk + supir + BBM + parkir + servis. Sering jadi tier expense yang tidak masuk proposal awal.

05

Idle utilisasi

Saat proyek A selesai, scaffold dibongkar dan disimpan 2-4 minggu sebelum proyek B mulai. Selama idle, semua biaya gudang + tim + maintenance tetap jalan. Rata-rata kontraktor mid-size punya idle time 40-50% dari total horizon waktu — separuhnya tidak menghasilkan revenue tapi tetap consume biaya.

06

Asuransi & risiko

Asuransi gudang + isi: 0,3-0,5% dari nilai aset per tahun. Risiko kehilangan/pencurian di lokasi proyek sub-kontraktor: rata-rata 1-3% set hilang per proyek (tergantung disiplin pengawasan). Bandingkan dengan rental: vendor cover replacement saat unit hilang via mekanisme deposit refundable yang sudah include risk premium.

07

Opportunity cost modal

CAPEX Rp 800 jt yang Anda kunci di Frame scaffolding TIDAK bisa dipakai untuk modal kerja proyek lain, beli alat berat (excavator, concrete pump), atau invest ke deposito 5,5%. Opportunity cost ini di-capture lewat WACC dalam model NPV — kalau WACC perusahaan Anda 14% (bukan 12%), gap antara sewa dan beli akan melebar lagi.

08

Obsolescence sistem

Sistem scaffolding berkembang — ringlock dan modular system mulai menggantikan Frame di proyek high-rise. Kalau Anda beli 1.000 set Frame hari ini, ada risiko 3-5 tahun lagi pasar shift ke ringlock dan demand sewa Frame turun. Vendor rental natural-nya rotate inventory mengikuti pasar; pemilik inventory sendiri stuck dengan sistem yang dibeli.

// Section 4 dari 5 — Skenario Jabodetabek

5 skenario riil — sewa, beli, atau hybrid.

Setiap skenario disusun dari profil kontraktor riil yang pernah konsultasi ke tim Ambaja. Angka ROI/NPV adalah selisih nilai present value antara opsi terpilih vs opsi alternatif terburuk, untuk horizon 5 tahun.

Skenario 01

Volume tahunan

~3.500 set-bulan/tahun

Pilihan optimal

Pure rental

Selisih NPV / IRR

+Rp 420 jt vs beli (5 thn)

Kontraktor rumah tinggal — 6 proyek/tahun

ProfilPT mid-size, 6 proyek rumah 2-3 lantai/tahun di Jabodetabek, kebutuhan Frame 80-150 set/proyek selama 3-4 bulan.

AlasanUtilisasi efektif 35-45% — di bawah threshold beli. Pipeline volatile, naik-turun ikut market residensial. Sewa beri fleksibilitas scale-up saat boom, scale-down saat sepi.

Skenario 02

Volume tahunan

~7.200 set-bulan/tahun

Pilihan optimal

Hybrid (inventory 300 set + sewa peak)

Selisih NPV / IRR

+Rp 180 jt vs full rental (5 thn)

Kontraktor ruko & low-rise — 12 proyek/tahun

ProfilSpesialis ruko 2-4 lantai dan office low-rise. 12 proyek/tahun, kebutuhan 200-400 set Frame per proyek selama 4-6 bulan.

AlasanVolume cukup besar dan stabil untuk justify partial ownership 300 set sebagai base-load. Sewa tambahan saat overlap proyek atau peak season. Hybrid lebih murah daripada full ownership (yang butuh 1.000+ set untuk efisien).

Skenario 03

Volume tahunan

~22.000 set-bulan/tahun

Pilihan optimal

Beli + sewa peak

Selisih NPV / IRR

+Rp 1,8 mil vs full rental (5 thn)

Kontraktor high-rise — 2-3 proyek besar/tahun

ProfilMid-large contractor, 2-3 proyek apartement / office high-rise paralel. Kebutuhan 1.500-3.500 set per proyek selama 8-14 bulan.

AlasanVolume sangat tinggi dan durasi panjang. Beli 2.000-2.500 set sebagai base inventory ekonomis IRR 17-22%. Sewa tambahan saat overlap proyek. Wajib ada divisi gudang & ops khusus + truk armada sendiri.

Skenario 04

Volume tahunan

~9.500 set-bulan/tahun

Pilihan optimal

Rental 12-bulan retainer

Selisih NPV / IRR

+Rp 340 jt vs beli (5 thn)

Owner developer perumahan — pipeline 5 tahun firm

ProfilDeveloper cluster perumahan, pipeline 4 tahap × 80-120 unit. Kebutuhan Frame untuk paralel 8-15 rumah selama 3 tahun + finishing.

AlasanPipeline jelas tapi developer bukan kontraktor — tidak punya kompetensi ops gudang scaffolding. Lebih efisien retainer kontrak rental 12 bulan dengan diskon volume + prioritas allocation, daripada bangun divisi internal yang bukan core business.

Skenario 05

Volume tahunan

~45.000 set-bulan/tahun

Pilihan optimal

Beli (business model)

Selisih NPV / IRR

IRR 28-35% (multi-year)

Sub-kontraktor scaffolding spesialis

ProfilPerusahaan dedicated rental scaffolding sebagai bisnis utama. Pipeline rental ke 15-20 kontraktor utama/tahun, scaling 5 tahun ke depan.

AlasanIni bukan kasus 'kontraktor butuh scaffolding' — ini business model rental. Beli besar (3.000-5.000 set), build gudang, tim ops, sales B2B. IRR tinggi karena ada revenue stream langsung dari rental — bukan cost saving seperti skenario 1-4.

// Section 5 dari 5 — Decision Matrix

Decision matrix: 6 pertanyaan filter.

Sebagai final filter, jawab 6 pertanyaan ini dengan jujur. Kalau jawaban "ya" ≥5 dari 6, beli mulai masuk akal. Kalau ≤2, sewa hampir selalu menang. Antara 3-4: hybrid atau retainer rental jangka panjang.

Apakah pipeline proyek 5 tahun ke depan menyerap minimum 7.500 set-bulan/tahun?

Threshold riil untuk justify ownership Frame.

Apakah perusahaan punya akses gudang ber-atap minimum 100 m² di area Jabodetabek?

Tanpa gudang, ROI ownership langsung negatif.

Apakah perusahaan mampu hire 2-3 tim ops gudang permanen tanpa hambatan cashflow?

Ops gudang adalah biaya tetap bulanan.

Apakah WACC perusahaan ≤ 12% dengan akses kredit korporat yang sehat?

WACC tinggi menggerus IRR capex.

Apakah utilisasi proyeksi ≥65% sepanjang horizon 5 tahun (proyek tidak banyak idle)?

Sensitivitas tertinggi di model NPV.

Apakah ada strategi exit / disposal aset di tahun 5-7 (resale ke vendor mikro)?

Salvage value berkontribusi 15-20% ke NPV.

5-6 "ya"

Beli masuk akal

Susun proposal capex lengkap dengan model NPV, IRR, payback, sensitivity analysis 3 skenario utilisasi.

3-4 "ya"

Hybrid / retainer

Beli base inventory 200-500 set + sewa surge. Atau kontrak rental retainer 12-24 bulan dengan diskon volume.

0-2 "ya"

Sewa adalah jawaban

Pure rental adalah pilihan finansial paling sehat. Fokus negosiasi tarif & SLA, bukan capex proposal.

// Penutup

ROI bukan tebakan — ROI adalah model.

Keputusan sewa vs beli scaffolding adalah keputusan capital allocation — sama beratnya dengan beli excavator, concrete pump, atau tower crane. Dia tidak boleh diputuskan dari perasaan "rasanya beli lebih murah" atau pengalaman anekdot satu-dua proyek lalu. Dia harus diputuskan dari model finansial yang dibangun dengan data utilisasi riil, WACC perusahaan, dan sensitivity analysis 3 skenario.

Setelah 1.200+ proyek dan ratusan konsultasi capex, kesimpulan stabil: ~75% kontraktor mid-size Jabodetabek lebih untung sewa. ~15% lebih untung hybrid (partial ownership). Hanya ~10% — kontraktor high-rise dengan pipeline firm, atau sub-kontraktor scaffolding spesialis — yang benar-benar untung beli. Cek dulu di mana Anda berada di spektrum ini sebelum tanda tangan PO senilai ratusan juta.

Kalau Anda lagi finalisasi keputusan capex scaffolding dan butuh second opinion dari sisi rental vendor (yang justru punya insentif jujur untuk sampaikan kalau beli lebih cocok), tim sales engineer Ambaja senang bantu susun model NPV-IRR custom pakai data utilisasi proyek riil Anda. Tanpa kewajiban — kalau analisis menunjukkan beli lebih untung, kami sampaikan dengan jelas.

// FAQ ROI Sewa vs Beli

Pertanyaan finansial yang paling sering masuk

Berapa break-even point hari rental sebelum beli scaffolding lebih masuk akal?

Untuk Frame 1.700mm SNI 8987:2021 dengan harga beli baru Rp 750.000-850.000 per set dan tarif sewa Rp 25.000/set/bulan, break-even kasar ada di 30-34 bulan utilisasi penuh. Itu pun belum hitung biaya gudang, perawatan, tim ops, dan opportunity cost modal. Kalau utilisasi rata-rata hanya 50-60% per tahun (umum di kontraktor mid-size yang proyeknya tidak overlap penuh), break-even riil molor jadi 5-6 tahun. Aturan praktis: kalau pipeline proyek 3 tahun ke depan menyerap ≥7.500 set-bulan/tahun, beli mulai masuk hitungan. Di bawah itu, sewa hampir selalu lebih sehat secara finansial. Bahas detail di Section 2 (NPV worked example) dan Section 4 (5 skenario).

Apakah scaffolding bisa disusutkan secara fiskal kalau saya beli?

Bisa. Scaffolding besi galvanis masuk kategori Aset Tetap Kelompok II (PMK 96/2009 dan PMK 72/PMK.03/2023), masa manfaat fiskal 8 tahun dengan tarif penyusutan garis lurus 12,5% per tahun, atau saldo menurun 25% per tahun. Komersial (PSAK 16) bisa pakai estimasi umur ekonomis 5-7 tahun tergantung intensitas pakai. Pajak depresiasi ini mengurangi PPh badan, jadi efek riilnya = nilai penyusutan × tarif PPh 22%. Misal beli Rp 100jt scaffolding, penyusutan tahun 1 = Rp 12,5jt, tax shield = Rp 2,75jt/tahun selama 8 tahun. Tetap saja, tax shield tidak otomatis bikin beli lebih menarik kalau utilisasi rendah — yang penting analisis after-tax cashflow utuh, bukan cuma manfaat pajak.

Bagaimana cara menghitung NPV (Net Present Value) sewa vs beli yang benar?

Tiga langkah: (1) Susun cashflow tahunan untuk 5-8 tahun (sesuai umur ekonomis scaffolding). Skenario BELI: cashflow tahun 0 = -CAPEX (harga unit + delivery + tim instal), tahun 1-8 = -biaya gudang & maintenance + tax shield depresiasi + nilai sisa di tahun 8. Skenario SEWA: tahun 1-8 = -biaya sewa per bulan × utilisasi × 12 (tidak ada CAPEX). (2) Tentukan discount rate — umumnya WACC perusahaan (10-14% untuk kontraktor mid-size Indonesia). (3) Diskontokan cashflow ke present value pakai rumus NPV = Σ CF_t / (1+r)^t. Pilihan dengan NPV (atau lebih akurat: negative NPV yang nilainya paling kecil karena keduanya cashflow keluar) lebih menarik. Worked example lengkap di Section 2.

Apa hidden cost paling sering terlupa kalau beli scaffolding sendiri?

Tujuh hidden cost yang konsisten di-skip dalam capex proposal: (1) Gudang penyimpanan — minimal 80-120 m² untuk 1.000 set Frame, sewa gudang Jabodetabek Rp 40-65rb/m²/bulan = Rp 4-8jt/bulan ongoing. (2) Tim gudang & ops (loading, picking, QC) — 2-3 orang × Rp 4,5-6jt/bulan. (3) Maintenance: cat anti-karat ulang setiap 18-24 bulan, ganti locking pin & cross brace patah 3-5% stok per tahun, las ulang frame bengkok. (4) Transport antar-proyek — armada milik atau sewa. (5) Pemerataan utilisasi — saat proyek selesai, scaffold idle 2-4 minggu tunggu proyek berikut, tetap bayar biaya gudang. (6) Asuransi gudang & isi. (7) Loss & damage di lapangan kontraktor sub. Total hidden cost ini bisa 18-28% per tahun dari nilai aset. Bahas detail di Section 3.

Apakah Ambaja menjual scaffolding atau hanya menyewakan?

Ambaja fokus rental — kami tidak menjual unit baru untuk inventory permanen Anda. Tapi kami sering jadi sparring partner untuk owner kontraktor yang lagi weighing capex vs opex: tim sales engineer Ambaja bisa bantu susun model NPV-IRR pakai data utilisasi proyek riil Anda, benchmarking biaya gudang area Jabodetabek, dan estimasi tax shield depresiasi. Banyak klien yang awalnya berencana beli akhirnya rental setelah analisis menunjukkan break-even di tahun ke-5 ke atas. Sebaliknya, beberapa klien (kontraktor dengan pipeline jelas 5+ tahun, atau owner alat berat yang sudah punya gudang) memang lebih untung beli — kami sampaikan secara fair tanpa hard-sell rental. Kirim profil utilisasi via WA, balik <2 jam kerja dengan analisis transparan.

Apakah leasing / sewa-beli (hire purchase) bisa jadi opsi tengah?

Bisa, tapi jarang ekonomis di scaffolding besi galvanis. Leasing scaffolding di Indonesia umumnya bunga 14-18% per tahun + admin 1-2%, dengan tenor 36-60 bulan. Total cost of ownership leasing biasanya 28-35% lebih mahal dari beli cash, dan 12-20% lebih mahal dari pure rental dengan utilisasi rata-rata. Leasing baru masuk akal kalau (a) perusahaan punya akses kredit mudah dengan bunga <11%, (b) pipeline proyek 5 tahun ke depan firm, (c) ada strategi resale aset di tahun 4-5 saat masih ada nilai sisa. Untuk kontraktor mid-size dengan pipeline volatile, pure rental jauh lebih fleksibel — naik-turun volume tanpa beban cicilan tetap.

Apa IRR (Internal Rate of Return) yang fair untuk capex scaffolding?

IRR proyek capex scaffolding sebaiknya minimal ≥ WACC perusahaan + 3-5% margin keamanan, atau ≥15-18% untuk kontraktor mid-size Indonesia. IRR di bawah WACC = secara teknis menghancurkan nilai perusahaan (modal lebih baik dipakai untuk proyek lain). Realita lapangan: capex scaffolding di Jabodetabek dengan utilisasi 60-70% menghasilkan IRR 8-12% — di bawah threshold sehat. Untuk hit IRR ≥18%, butuh utilisasi ≥85% sepanjang umur ekonomis (sulit), atau kombinasi pakai untuk proyek internal + sub-rental ke kontraktor lain (butuh tim ops dan sales tambahan, jadi tidak lagi pure capex play tapi business unit baru).

Berapa nilai sisa (salvage value) Frame scaffolding bekas pakai 5 tahun?

Frame 1.700mm SNI 8987:2021 yang dirawat dengan baik (cat anti-karat per 24 bulan, ganti locking pin & pin penghubung saat patah, simpan di gudang ber-atap) punya nilai sisa pasar second-hand 35-50% dari harga beli baru setelah 5 tahun. Kalau tidak dirawat (karat permukaan, frame bengkok 5-10%, kelengkapan tidak komplit), nilai sisa drop ke 15-25%. Pasar second-hand scaffolding di Jabodetabek aktif via kontraktor kecil dan vendor rental skala micro yang scale-up dari inventory bekas. Untuk perhitungan NPV: pakai 30-40% sebagai estimasi konservatif, masukkan sebagai cashflow positif di tahun 5 atau saat aset di-disposal. Jangan asumsikan 0 — tapi juga jangan over-estimate kalau perawatan internal tidak commit.

// Siap Decide?

Kirim profil utilisasi. Kami susun model NPV-IRR custom untuk Anda.

Tim sales engineer Ambaja siap bantu Anda susun model finansial sewa vs beli pakai data utilisasi proyek riil Anda, WACC perusahaan, dan sensitivity analysis 3 skenario. Tanpa kewajiban — kalau analisis menunjukkan beli lebih untung, kami sampaikan dengan jelas.

WhatsApp