Cara Hitung Set Scaffolding Rumah 2 Lantai
Mau bangun atau renovasi rumah 2 lantai tapi bingung butuh berapa set scaffolding? Salah hitung sedikit, biaya sewa bulanan bisa membengkak atau pekerjaan tertahan menunggu set tambahan. Artikel ini membongkar metode hitung yang sama persis dipakai estimator Ambaja saat melayani kontraktor residensial di Jabodetabek — dari rumus dasar per meter fasad, koreksi tinggi lantai, hingga buffer aksesoris yang sering terlupa di RAB.
1. Kenapa Hitung Manual Set Scaffolding Penting?
Untuk rumah 2 lantai dengan luas bangunan ±100–200 m² (tapak ±50–100 m²), estimasi kasar via "kira-kira 1 set per 1,5 m fasad" sering meleset karena tiga hal yang jarang dibahas: tinggi plafon non-standar (3,2–4 m vs asumsi 3 m), bukaan jendela & balkon yang justru butuh tambahan bracing, dan zona dak cor / overstek yang minta jack base ekstra. Saat estimator residensial Ambaja kerja di Senopati, Kemang, BSD, atau Bintaro, perbedaan 15–25 set antara hitungan kasar dan hitungan presisi bisa setara Rp 375–625 ribu per bulan di tarif sewa Frame Rp 25.000/set/bulan — belum termasuk PPN 11%, ongkos kirim, dan pasang tambahan untuk set yang kurang.
Dampak lain dari over/under-estimasi: kalau lebih, gudang kontraktor jadi penuh barang nganggur dan deposit refundable ter-lock di vendor selama proyek. Kalau kurang, tim plester stop di tier 3 karena nunggu add-on delivery — yang artinya hari kerja terbuang, biaya tukang harian (Rp 150–250rb per orang per hari) tetap jalan.
Artikel ini fokus rumah 2 lantai karena segmen itu paling volatile di Jabodetabek: skala kecil membuat margin error tinggi (1 set = 1% dari total), dan owner biasanya tidak punya estimator internal seperti kontraktor gedung tinggi. Untuk gedung 4+ lantai, baca dulu panduan cara hitung scaffolding generik yang lebih luas cakupannya.
2. Asumsi Dasar & Spesifikasi Frame yang Dipakai
Sebelum masuk rumus, kunci semua asumsi teknis dulu. Hitungan di artikel ini berbasis Frame (pipa SNI 8987:2021) dengan dimensi paling umum dipakai di pasar Jabodetabek:
| Komponen | Spec | Catatan |
|---|---|---|
| Main Frame | 1.700mm × 1.219mm | Pipa Ø42,7 mm × 2,5 mm, galvanis |
| Frame Alt. | 1.900mm × 1.219mm | Untuk clear height di atas 4 m; di fasad bisa dikombinasikan dengan 1,7 m |
| Cross Brace | Untuk bay 1.829 mm (±1.930 mm) | 2 unit per set frame |
| Jack Base | Ulir Ø34–38 mm, setel 0–600 mm (praktis ≤500 mm) | 1 per kaki (2 per main frame) di tier dasar |
| U-Head | Ulir Ø34–38 mm, setel 0–600 mm (praktis ≤500 mm) | 1 per kaki di tier atas — hanya untuk shoring |
| Catwalk | 2.400 × 240 mm plywood phenolic 18 mm | 5 lembar per bay di lift kerja (penuh) |
| SWL | 250 kg/m² | Rating desain (SWL) |
Beban kerja 250 kg/m² lebih dari cukup untuk pekerjaan finishing rumah 2 lantai (tukang plester + bucket adukan ≈ 120–180 kg/m²). Detail spesifikasi lengkap ada di halaman Sewa Scaffolding Frame. Kalau Anda butuh sistem yang lebih cepat assembly atau geometri non-kotak, simak juga perbedaan Frame vs Ringlock vs Kwikstage.
Asumsi default artikel
- Tinggi lantai 1 = 3,2 m (plafon 3 m + ring balok 0,2 m)
- Tinggi lantai 2 = 3,2 m
- Tinggi total fasad termasuk parapet atap = 7,2 m (3,2 + 3,2 + 0,8) → butuh 5 tier Frame 1.7m
- Lebar standar 1 set fasad = 1,8 m (bay cross brace)
- Pekerjaan: plesteran + acian + cat eksterior
3. Rumus Hitung Jumlah Set per Sisi Fasad
Konsep dasar: scaffolding Frame disusun dalam grid 3D — bay horizontal (lebar) × tier vertikal (tinggi) × row (kedalaman dari dinding). Untuk pekerjaan fasad rumah 2 lantai, kita hanya butuh 1 row menempel dinding (kecuali ada balkon lebar atau kanopi yang harus dilewati).
Rumus inti
Jumlah Set per Sisi = ⌈L / 1,8⌉ × ⌈H / 1,7⌉
L = panjang sisi dinding (meter) · H = tinggi total fasad (meter) · 1,8 = lebar 1 bay cross brace · 1,7 = tinggi 1 tier Frame standar · ⌈x⌉ = pembulatan ke atas
Pembulatan ke atas wajib karena scaffolding tidak bisa dipotong — Anda harus tetap pesan 1 set utuh meski sisa fasad hanya 0,5 m. Inilah kenapa hitungan kasar "total m² ÷ 3" sering meleset: tidak memperhitungkan boundary loss di setiap sisi bangunan.
Koreksi: tinggi non-standar
Tinggi fasad jarang persis kelipatan 1,7 m. Untuk rumah 2 lantai dengan parapet atap 80 cm, tinggi total = 3,2 + 3,2 + 0,8 = 7,2 m. Hasil ⌈7,2 / 1,7⌉ = ⌈4,24⌉ = 5 tier. Tier ke-5 memang "mubazir" di sisi atas (cuma 0,4 m yang dipakai), tapi tier ini berfungsi sebagai tiang rel guard rail untuk lantai kerja teratas — top rail ≥ 950 mm, mid rail, dan toe board tetap dipasang (Permenaker 9/2016 Pasal 24). Scaffold tag operasional dipasang di titik akses utama (kaki tangga), bukan di tier teratas.
Alternatif: kombinasikan Frame 1.9m — misalnya 2 tier 1,9 m + 2 tier 1,7 m = 7,2 m, pas setinggi fasad sehingga cukup 4 tier (platform teratas tetap wajib diberi guard rail ≥ 95 cm). Tim Ambaja biasanya menyarankan ini untuk owner yang mau efisien biaya — catat bahwa Frame 1.9m premium ±12% di tarif sewa (Rp 28.000 vs Rp 25.000/set/bulan, belum termasuk PPN 11%).
4. Worked Example — Rumah 2 Lantai 8 × 12 m
Mari aplikasikan rumus untuk rumah persegi panjang dengan footprint 8 × 12 m, 2 lantai, parapet atap 80 cm — tipikal rumah kavling 150 m² di cluster Bintaro, BSD, atau Cibubur. Pekerjaan: plesteran + acian + cat eksterior seluruh dinding luar.
| Sisi | Panjang (m) | Bay (⌈L/1,8⌉) | Tier (⌈H/1,7⌉) | Set |
|---|---|---|---|---|
| Depan | 8,0 | 5 | 5 | 25 |
| Belakang | 8,0 | 5 | 5 | 25 |
| Samping kiri | 12,0 | 7 | 5 | 35 |
| Samping kanan | 12,0 | 7 | 5 | 35 |
| Subtotal | 40 m | 24 bay | 5 tier | 120 set |
Subtotal 120 set adalah angka idealized. Sekarang tambahkan koreksi praktis lapangan:
- Buffer 10% untuk overlap sudut (4 sudut × 2-3 set/sudut = ~8-12 set). Tanpa buffer, sudut harus di-double frame untuk stabilitas torsi. → tambah 12 set
- Spare 5% untuk komponen bengkok / hilang saat handling. → tambah 6 set
- Akses balkon & carport overhang (kalau ada). Untuk rumah dengan balkon 2 m × lebar fasad, butuh 1 row tambahan di tier 2-3. → tambah 10 set (kondisional)
Total Frame Set untuk Rumah 8×12m
≈ 140–150 set
Untuk durasi sewa 3 bulan plesteran + 1 bulan cat = total Rp 14–15 juta tarif sewa Frame Rp 25rb/set/bulan (belum termasuk PPN 11%, aksesoris, jasa pasang-bongkar, & delivery).
5. Aksesoris yang Wajib Diperhitungkan
Banyak owner ketinggalan menghitung aksesoris pendukung — padahal tanpa ini scaffolding tidak stabil dan tidak aman. Berikut rasio standar yang Ambaja pakai untuk Frame:
| Aksesoris | Rasio | Untuk 140 set Frame |
|---|---|---|
| Cross Brace | 2 unit / set (termasuk harga set) | ~280 unit, tidak ditagih terpisah |
| Jack Base | 2 / main frame di tier dasar | ~56 unit (28 frame dasar) |
| U-Head | Hanya untuk shoring | — (tidak perlu untuk fasad) |
| Catwalk plywood | 5 lembar / bay / lift kerja | ~120 lembar (24 bay × 5, satu lift aktif) |
| Tangga (Stairs Ladder) | 1 / tier akses | 4-5 unit |
| Pipa Tie-In | 1 / 4 set (2 tier × 2 bay ≈ 12,4 m²) | ~30 unit |
| Guard Rail & Toe Board | Rel atas ≥ 950 mm + rel tengah (celah ≤ 470 mm) + toe board di sisi terbuka lantai kerja | ±44 m sisi luar per lift kerja aktif (24 bay × 1,829 m), di-quote per proyek |
Cross brace dan joint pin sudah termasuk dalam harga set, jadi tidak ditagih lagi. Aksesoris lain disewa per buah: jack base, U-head, dan pipa tie-in mulai Rp 5.000/pcs/bulan, catwalk mulai Rp 15.000/lembar/bulan, tangga mulai Rp 25.000/pcs/bulan (semua belum termasuk PPN 11%). Untuk konfigurasi di atas (±210 aksesoris, satu lift kerja penuh), biaya bulanan aksesoris ≈ Rp 2,4 juta — belum termasuk pipa guard rail dan toe board pengaman tepi lantai kerja (Permenaker 9/2016 Pasal 24), yang di-quote per proyek. Lihat rincian aksesoris di halaman aksesoris U-Head & Jack Base. Tie-in wajib diikat ke struktur (kolom/balok) setiap 2 tier × 2 bay (±12,4 m²) — ini bukan opsional, melainkan SOP keselamatan agar scaffolding tidak terguling (tinggi 8,5 m di contoh ini jauh melewati 4× lebar dasar Frame, ±4,9 m — OSHA 1926.451(c)(1)) sekaligus menahan gaya angin, terutama bila dipasang jaring atau terpal — pada kondisi itu jumlah tie ditambah sesuai desain karena gaya angin jauh lebih besar.
Skenario alternatif: paket proyek
Sebagian kontraktor menanyakan paket untuk menekan tarif per set — aksesoris di luar set (jack base, U-head, catwalk), delivery, dan pasang-bongkar tetap dihitung terpisah di quotation. Paket proyek Ambaja ditujukan untuk kontrak 6+ bulan dengan volume mulai 500 set (Rp 18 rb/set/bulan; Rp 15 rb untuk ≥ 1.000 set dengan kontrak 9–12 bulan), jadi untuk rumah 2-3 lantai seperti contoh ini (±140 set) hitung per set dengan tarif Frame Rp 25.000/set/bulan tetap paling tepat — sekitar Rp 3,5 juta/bulan. Detail di paket proyek scaffolding.
Untuk proyek besar yang memang masuk skema paket, trade-off-nya adalah komitmen volume dan durasi kontrak; aksesoris tambahan di tengah proyek (mis. U-head untuk dak cor) tetap ditagih per pcs di luar tarif set. Sebaliknya, hitung eceran memberi kontrol penuh — cocok untuk kontraktor dengan estimator internal yang sudah tahu plot demand per minggu. Owner pemula yang baru pertama kali sewa scaffolding sebaiknya minta tim kami memvalidasi hitungannya dulu, karena risiko salah-hitung di sisi mereka jauh lebih besar daripada selisih harga.
Catatan biaya logistik yang sering terlewat: delivery dari Gudang Kebon Jeruk dan jasa pasang-bongkar tidak termasuk tarif sewa. Keduanya di-quote per proyek — bergantung jarak, volume, tinggi, dan kompleksitas — dan dicantumkan terpisah di quotation final, jadi sediakan baris anggarannya sejak awal.
6. Skenario Khusus & Pertanyaan Yang Sering Muncul
Skenario A — Dak Cor Lantai 2
Kalau proyek belum sampai finishing dan masih di tahap dak cor lantai 2, hitungan total set bertambah karena scaffolding juga dipakai sebagai penyangga bekisting dak (bukan hanya akses kerja). Untuk dak seluas 96 m² (8×12m), patokan susunan rapat — setiap modul frame 1,2 × 1,8 m menjadi satu bay ber-cross-brace — memberi 96 ÷ 2,16 ≈ 45 set per tingkat tambahan. Jack base (tingkat dasar) dan U-head (tingkat teratas) dihitung 1 per kaki frame, bukan per titik grid: tiap baris n bay memakai n + 1 frame dan baris bersebelahan masing-masing punya garis kaki sendiri, jadi frame fisik = set per tingkat + jumlah baris. Dengan baris sejajar sisi 12 m ada ⌈8 ÷ 1,2⌉ = 7 baris → 45 + 7 = 52 frame fisik → ±104 jack base + ±104 U-head (gelagar diletakkan di atas U-head). Susunan menara berjarak yang celahnya dijembatani gelagar bisa memakai set dan kaki jauh lebih sedikit, asalkan jaraknya dibuktikan perencana dari beban dak. Untuk pekerjaan dak, biasanya pakai kombinasi scaffolding + bekisting Ambaja yang komponennya di-quote per zona pour sesuai layout.
Skenario B — Renovasi parsial (1 sisi saja)
Untuk renovasi fasad depan saja (rebrand cat, ganti finishing cladding) tanpa ganggu 3 sisi lain, hitungan langsung tinggal 1 baris tabel sebelumnya. Contoh: fasad depan 8 m × 7,2 m → 25 set + buffer 3 set = 28 set. Sewa bulanan ditagih minimum 30 set di Jakarta (Rp 750rb/bulan, belum termasuk PPN 11%; di luar Jakarta minimum 50 set) — bila pekerjaannya selesai dalam ±10 hari, sewa harian 28 set (Rp 70rb/hari, minimum 7 hari) lebih hemat — ditambah aksesoris sekitar Rp 600rb/bulan (jack base 12 pcs, catwalk 25 lembar untuk satu lift kerja penuh, tangga 5 unit, tie-in ±7 — cross brace sudah termasuk set; pipa guard rail dan toe board di-quote terpisah). Cocok untuk owner yang lagi siapin rumah untuk jual atau iklan property listing premium.
Skenario C — Atap miring & jurai
Rumah dengan atap pelana miring 30°-45° (atap perisai tidak punya gable end) butuh tambahan scaffolding khusus di gable end (sisi segitiga atap) untuk pasang gording, lisplang, atau penutup atap. Asumsi atap pelana 8 m bentang × 1,5 m tinggi gable (kemiringan ±20°; pada kemiringan 30°–45° tinggi gable ±2,3–4 m sehingga bay tengah butuh 2–3 tier dan tambahannya lebih banyak) → 1 segitiga ≈ butuh 5 set tambahan dengan elevation tier datar (satu tier tambahan per bay; jack base hanya menyetel selisih elevasi landasan dengan ulir terbuka ≤ 300 mm, bukan membentuk tier miring). Untuk rumah 2 lantai gable di dua sisi pendek = tambah ~10 set.
Skenario D — Gang sempit, akses truk terbatas
Karakter rumah di Jakarta dalam (Kebayoran Baru, Tebet, Pasar Minggu) sering gang ≤ 2,5 m yang tidak bisa dimasuki truk — Colt Diesel pun umumnya butuh jalan ≥ 3 m. Ambaja bongkar di titik terdekat yang bisa dijangkau truk colt diesel double (CDD) atau engkel + unload manual per komponen — proses ini biasanya menambah 1 hari di jadwal delivery dan 2 orang helper. Penting kalau Anda ada deadline cor atau plesteran ketat. Untuk wilayah lebih terbuka seperti Tangerang Selatan atau Bekasi, truk fuso langsung bongkar di lokasi.
7. Checklist Hitung Cepat (Ringkasan)
- Ukur 4 sisi fasad (depan, belakang, kiri, kanan) → catat panjang dalam meter.
- Hitung tinggi total = tinggi lantai 1 + lantai 2 + parapet atap.
- Aplikasikan rumus ⌈L/1,8⌉ × ⌈H/1,7⌉ per sisi, jumlahkan.
- Tambah buffer 10% untuk overlap sudut + 5% spare.
- Cek skenario khusus: dak cor, balkon, atap miring, akses gang.
- Hitung aksesoris dengan rasio standar (jack base 2 per main frame di tier dasar, catwalk 5 lembar per bay per lift kerja, tangga 1 per tier akses, tie 1 per 4 set, guard rail + toe board di sisi terbuka lantai kerja; cross brace sudah termasuk set).
- Bandingkan total sewa bulanan per set + aksesoris dengan sewa harian (bila pekerjaan selesai di bawah 10 hari) — pilih yang lebih murah.
- Konfirmasi dengan tim Ambaja via WA untuk verifikasi sebelum RAB final dikirim ke owner.
Pertanyaan seputar hitungan set scaffolding rumah 2 lantai
Penulis
Rendra Aditya Wicaksana
Project Engineer Ambaja yang menangani estimasi kebutuhan scaffolding untuk proyek residensial dan komersial di Jabodetabek. Artikel ini disusun berdasarkan praktik estimasi dan pemasangan di proyek rumah 2 lantai di Kebayoran Baru, BSD, Bintaro, Cibubur, dan Bekasi.
Mau Validasi Hitungan Anda?
Kirim denah atau foto rumah ke WA, estimator Ambaja bantu hitung ulang — respons ±30 menit pada jam layanan chat (08.00–22.00 WIB), gratis, tanpa komitmen. Kalau cocok, quotation tertulis menyusul same-day s/d H+1 — untuk volume ≥100 set seperti rumah contoh ini, quotation final + jadwal delivery keluar setelah site check (biasanya +1–2 hari kerja).
Artikel Terkait Blog Scaffolding
- Blog Scaffolding
Cara Pasang Scaffolding Bertingkat dengan Aman
Panduan teknis pasang scaffolding bertingkat untuk gedung 3-12 lantai — cek daya dukung tumpuan, jack base + sole board, cross brace per bay, tie-in ke struktur tiap ±2 modul vertikal × ±2 bay horizontal, dan inspeksi green tag harian. Berbasis SNI 19-1955-1990 (pemasangan & pemakaian perancah), Permenaker 9/2016, dan OSHA 1926 Subpart L dari workflow lapangan tim operasional Ambaja di Jabodetabek.
Baca artikel - Blog Scaffolding
Frame vs Ringlock — Pilih Mana untuk Proyek Anda
Pillar post: bandingkan side-by-side scaffolding frame dan ringlock — dari speed assembly, beban kerja per m², SNI 8987:2021 vs EN 12810, hingga harga sewa per bulan untuk proyek Jabodetabek.
Baca artikel - Blog Scaffolding
Beban Kerja Scaffolding: Desain & Inspeksi
Panduan beban kerja (SWL) scaffolding: SWL adalah hasil desain, konfigurasi, dan datasheet produsen — bukan angka yang ditetapkan satu nomor SNI. Pipa dan material perancah mengacu SNI 8987:2021 & SNI 03-3631-1994; SWL diturunkan lewat faktor keamanan 4:1. Dilengkapi checklist inspeksi harian sebelum scaffolding dinaiki di proyek.
Baca artikel



