Lompat ke konten
Ambaja.
Panduan · Komparasi Alat Ukur

Total Station vs GPS RTK vs Drone LiDAR — Pilih yang Mana?

Tiga teknologi ukur tanah modern dengan akurasi, kecepatan, dan biaya yang sangat berbeda. Panduan ini membedah spesifikasi alat real (Topcon, Leica, Trimble, DJI, YellowScan), use case sweet spot, dan menyajikan decision tree praktis agar Anda tidak salah pilih untuk proyek di Jabodetabek.

Akurasi TS
1–3 mm
Akurasi RTK
8 mm H
Akurasi LiDAR
2–5 cm
Update
Juni 2026
Ringkasan Eksekutif

Tiga Alat, Tiga Filosofi, Tiga Range Akurasi

Pertanyaan “harus pakai total station atau drone LiDAR?” hampir selalu salah dibingkai. Ketiga alat — Total Station, GPS RTK, dan Drone LiDAR — bukan kompetitor langsung. Mereka adalah tools dengan sweet spot yang sangat berbeda: satu mengukur titik tunggal dengan presisi milimeter, satu memetakan boundary 50 hektar dalam sehari, dan satu lagi merekam jutaan titik 3D di ratusan hektar lahan bervegetasi.

Tim Ambaja menemukan bahwa 70% kesalahan pemilihan alat datang dari satu hal: owner atau kontraktor membandingkan harga sewa per hari tanpa membandingkan produktivitas per hektar. Drone LiDAR yang harganya 5–10× total station ternyata 50–100× lebih cepat per hektar — sehingga untuk lahan 20+ hektar, LiDAR justru lebih ekonomis.

Panduan ini adalah hasil kompilasi pengalaman lapangan Ambaja di Jabodetabek selama proyek perumahan, kawasan industri, gedung tinggi, dan korridor infrastruktur. Semua angka spesifikasi merujuk datasheet resmi dari Topcon, Leica Geosystems, Trimble, DJI, YellowScan, dan CHC Navigation per kuartal pertama 2026.

Bagian 1 · Pengenalan Teknologi

Kenali Cara Kerja Masing-Masing Alat

Total Station

Alat elektronik yang menggabungkan theodolite digital (untuk mengukur sudut horizontal & vertikal) dan electronic distance meter (EDM) berbasis laser. Mengukur titik satu per satu dengan akurasi milimeter. Membutuhkan line of sight ke prisma atau permukaan reflektif.

  • Prinsip: triangulasi optik laser
  • Output: titik koordinat XYZ
  • Mode robotic: 1 operator solo

GPS RTK / GNSS

Receiver GNSS yang menerima sinyal dari konstelasi satelit (GPS, GLONASS, Galileo, BeiDou) dan menggunakan Real-Time Kinematic correction dari base station atau jaringan CORS untuk mencapai akurasi sentimeter. Wajib open sky — terhalang gedung atau kanopi langsung gugur ke meter-level.

  • Prinsip: koreksi differential carrier-phase
  • Output: koordinat absolut WGS84/UTM
  • Latency: real-time (≤1 detik)

Drone LiDAR

Sistem Light Detection and Ranging mounted di drone — menembakkan ratusan ribu pulse laser per detik dan merekam multi-return untuk mendapat point cloud 3D. Dipadukan IMU + GNSS untuk geo-referencing. Bisa menembus kanopi vegetasi karena pulse merekam multiple return per titik.

  • Prinsip: time-of-flight pulse laser
  • Output: point cloud LAS, DTM, DSM
  • Densitas: 100–500 titik/m²
Bagian 2 · Tabel Komparasi

Side-by-Side: 10 Parameter Kritis

Angka spesifikasi di tabel ini merujuk datasheet resmi Topcon GT-1200, Leica TS16, Trimble R12i, DJI Zenmuse L2, dan YellowScan Mapper+. Biaya per hektar adalah rate Ambaja per Q2 2026, sudah termasuk operator + processing data dasar (kontur 0,5 m, ortofoto, DWG).

ParameterTotal StationGPS RTKDrone LiDAR
Akurasi Horizontal
1–3 mm + 1–2 ppm8 mm + 1 ppm2–5 cm (post-process)
Akurasi Vertikal
1–2 mm15 mm + 1 ppm5–10 cm (terrain), 3–5 cm (hard surface)
Kecepatan / Produktivitas
0,5–2 ha/hari5–20 ha/hari50–500 ha/hari
Biaya Sewa Alat (per hari)
Rp 800rb – 1,5 jtRp 1,2 – 2,5 jtRp 5 – 12 jt (drone + payload)
Biaya Jasa per Hektar
Rp 500rb – 1,2 jt/ha (≤5 ha)Rp 300–700 rb/ha (5–50 ha)Rp 1 – 1,5 jt/ha (≥10 ha, terhitung hemat)
Cocok di Bawah Kanopi Vegetasi
Ya — line of sightTidak — butuh open skyYa — pulse penetrasi daun
Toleransi Cuaca
Hujan ringan OK, kabut tebal NOAman selama tidak badaiTidak boleh hujan, angin <10 m/s
Tim Lapangan Minimum
2 orang (operator + helper)1 orang (rover) atau 22 orang (pilot + observer) + GCP team
Deliverable Khas
Titik koordinat, BM, stake-out, as-builtBoundary, control point, stake-out cepatPoint cloud, DTM/DSM, kontur 0,25–0,5 m
Use Case Sweet Spot
Gedung, jembatan, monitoring presisiBoundary 5–50 ha, perumahan, jalan desaKawasan industri, perkebunan, korridor jalan

ppm = parts per million dari jarak diukur (artinya 1 mm per 1 km). Akurasi LiDAR di tabel berlaku untuk flight altitude 50–80 m AGL dengan GCP penuh. Tanpa GCP, akurasi degradasi 5–10×.

Bagian 3 · Spesifikasi Alat Real

Brand & Model yang Beredar di Indonesia

Spesifikasi di bawah adalah model populer yang Ambaja dan rekanan sewa-menyewa gunakan untuk proyek Jabodetabek. Tarif sewa adalah kisaran market — harga aktual tergantung durasi sewa, asuransi (sistem deposit refundable di Ambaja), dan kelengkapan aksesori.

Total Station

Topcon
GT-1200 Robotic Total Station
  • Akurasi sudut 1"
  • Akurasi jarak 1 mm + 1 ppm
  • Range reflectorless 1.000 m
  • Auto-tracking UltraTrac
Sewa Rp 1,2 – 1,5 jt/hari
Leica
TS16 (1" precision)
  • Akurasi sudut 1"
  • Akurasi jarak 1 mm + 1,5 ppm
  • ATRplus + PowerSearch
  • Captivate field software
Sewa Rp 1,3 – 1,8 jt/hari
Sokkia
iM-50 Series
  • Akurasi sudut 2"
  • Akurasi jarak 2 mm + 2 ppm
  • Range reflectorless 800 m
  • Pilihan entry-level kontraktor
Sewa Rp 800rb – 1,1 jt/hari

GPS RTK / GNSS Receiver

Trimble
R12i GNSS Receiver
  • Akurasi H 8 mm + 1 ppm, V 15 mm + 1 ppm
  • IMU tilt-compensation
  • 672 channel GNSS
  • ProPoint engine
Sewa Rp 2 – 2,5 jt/hari (base + rover)
Leica
GS18 T / GS18 I
  • Tilt-compensated, immune to magnetic
  • Akurasi H 8 mm + 1 ppm
  • Captivate + SmartLink correction
  • Visual Positioning (GS18 I)
Sewa Rp 2,2 – 2,8 jt/hari
CHC Navigation
i90 Pro / i73+
  • Akurasi H 8 mm + 1 ppm, V 15 mm + 1 ppm
  • Network RTK / RTX subscription
  • Pilihan mid-tier Asia Pasifik
  • Battery 12+ jam
Sewa Rp 1,2 – 1,8 jt/hari

Drone LiDAR System

DJI
Matrice 350 RTK + Zenmuse L2
  • 240.000 points/sec, 5 returns
  • Akurasi H 5 cm, V 4 cm (50 m AGL)
  • Range 450 m
  • IMU + RGB 20 MP terintegrasi
Sewa Rp 5 – 7 jt/hari
YellowScan
Mapper+ (Hesai XT32 / Livox)
  • 640.000 pts/sec
  • Akurasi 2,5 cm RMSE
  • Berat 1,2 kg — fit DJI M300/M350
  • Output LAS 1.4, kompatibel CloudCompare
Sewa Rp 8 – 12 jt/hari
Phoenix LiDAR
Recon-A — Riegl miniVUX
  • 100.000 pts/sec, 5 returns
  • Akurasi 1,5 cm
  • Survey-grade IMU
  • Pilihan kelas premium korridor
Sewa Rp 10 – 15 jt/hari
Bagian 4 · Decision Tree

5 Pertanyaan Untuk Pilih Alat Yang Tepat

Jawab lima pertanyaan ini secara berurutan. Setelah pertanyaan ke-lima, biasanya pilihan alat sudah jelas. Jika masih ragu, jawaban di lapangan sering hybrid — gunakan dua alat berbeda untuk fase berbeda dalam satu proyek.

  1. 1

    Berapa luas area total proyek?

    ≤ 2 ha → Total Station unggul (akurasi dan biaya). 2–10 ha → GPS RTK paling efisien. ≥ 10 ha terbuka → LiDAR atau photogrammetry sudah bersaing harga. ≥ 50 ha bervegetasi → LiDAR satu-satunya yang masuk akal secara waktu.

  2. 2

    Berapa akurasi vertikal yang dibutuhkan deliverable Anda?

    ≤ 5 mm (struktur, monitoring deformasi) → Total Station wajib. 1–3 cm (siteplan, cut & fill kavling) → GPS RTK cukup. 5–10 cm (kontur 0,5 m, perencanaan lansekap) → LiDAR memenuhi syarat.

  3. 3

    Apakah area survey tertutup vegetasi rapat atau bangunan?

    Hutan / kebun lebat → LiDAR (penetrasi kanopi) atau Total Station di clear sub-area. Lokasi gedung tinggi / urban canyon → Total Station karena sinyal GPS multipath. Lahan terbuka full → bebas pilih sesuai luas.

  4. 4

    Apa deliverable utama yang dibutuhkan?

    Titik koordinat + as-built struktur → Total Station. Boundary survey + stake-out + BM → GPS RTK. Kontur, DTM/DSM, point cloud 3D, volumetri → LiDAR (atau photogrammetry untuk lahan terbuka).

  5. 5

    Berapa budget dan deadline?

    Budget hemat, deadline longgar, area kecil → Total Station. Deadline ketat, area boundary 5–20 ha → GPS RTK. Budget medium-high, deadline mendesak, area luas → LiDAR (cost-per-hectare paling rendah di skala besar).

Bagian 5 · Skenario Proyek Real

6 Skenario Proyek Jabodetabek — Alat Mana yang Menang

Berikut enam skenario lapangan yang Ambaja sering temui dan rekomendasi konfigurasi alat yang biasanya memberi hasil optimal — dengan justifikasi singkat agar Anda bisa kalibrasi sendiri untuk case yang serupa.

Gedung 25 lantai di SCBD

Pilihan: Total Station Robotic

Kolom struktur butuh toleransi ≤5 mm. Lokasi dalam urban canyon (GPS multipath). Stake-out per lantai pakai TS robotic mode 1 operator. Cek vertikalitas dengan zenith plummet + reflectorless. LiDAR/RTK overkill dan tidak cukup presisi.

Kawasan industri 80 ha di Cikarang

Pilihan: Drone LiDAR + 12 GCP via GPS RTK

Luas 80 ha selesai 2 hari terbang (vs 30 hari pakai RTK murni). Vegetasi semak parsial — LiDAR menembus untuk DTM. GCP RTK menjamin akurasi vertikal 5 cm. Output: DTM 0,25 m, DSM, ortofoto 5 cm, volume cut & fill.

Perumahan 15 ha di Bogor

Pilihan: GPS RTK + Total Station check

Boundary survey + stake-out kavling jadi 2 hari pakai RTK. Total Station digunakan untuk verifikasi 5 titik sudut kritis dan as-built tugu BM. Tidak butuh LiDAR karena kontur 0,5 m bisa di-interpolasi dari RTK grid 5 m.

Lahan kebun sawit 200 ha di Karawang

Pilihan: Drone LiDAR — wajib

Kanopi sawit menghalangi GPS RTK total. Photogrammetry hanya merekam top of canopy. LiDAR merekam ground melalui gap 2–3 m antar pohon. Luas 200 ha selesai 3–4 hari terbang dengan densitas 100 pts/m².

Korridor jalan tol 12 km

Pilihan: Drone LiDAR korridor + RTK control

Misi flight korridor strip 200 m lebar × 12 km panjang selesai 1–2 hari. LiDAR mengumpulkan profil cross-section setiap 5 m. RTK untuk pasang control point di simpul-simpul kritis. Akurasi vertikal 5 cm cukup untuk perencanaan alinyemen.

Monitoring penurunan jembatan

Pilihan: Total Station Robotic + prisma permanen

Butuh akurasi 1 mm vertical untuk deteksi settlement. Pasang 8–12 prisma permanen di pier, scan otomatis tiap minggu dengan TS robotic. Compare reading antar epoch. RTK terlalu noisy (15 mm V), LiDAR tidak presisi untuk titik tunggal.

Bagian 6 · Hindari Kesalahan Umum

7 Kesalahan Pemilihan Alat Yang Sering Terjadi

#1Membandingkan harga sewa per hari, bukan per hektar

Drone LiDAR Rp 7 jt/hari kelihatan mahal, tapi 50 ha/hari = Rp 140rb/ha. Total Station Rp 1 jt/hari × 25 hari untuk 50 ha = Rp 500rb/ha. LiDAR justru lebih murah di skala ini.

#2Pakai GPS RTK di bawah kanopi tanpa test sinyal dulu

RTK butuh PDOP <4 dan minimum 7 satelit. Di hutan/kebun rapat, sering drop ke float solution dengan akurasi 30–50 cm — lebih buruk dari handheld GPS. Selalu test 30 menit dulu di lokasi.

#3Mengandalkan LiDAR tanpa GCP

Tanpa Ground Control Point yang ditebar pakai RTK, point cloud LiDAR hanya akurat relatif terhadap dirinya sendiri. Geo-referencing absolut bisa meleset 30–80 cm. Selalu minimum 5 GCP per misi.

#4Tidak mempertimbangkan post-processing time

LiDAR butuh 2–5 hari post-processing setelah flight (point cloud cleaning, classification, kontur extraction). Total Station data sudah siap di akhir hari. Jangan deadline maker delivery sama hari dengan flight LiDAR.

#5Pilih total station 2" padahal butuh 1"

Total station entry-level 5" akurasinya tidak cukup untuk monitoring presisi. Mid-tier 2" cukup untuk konstruksi umum. Tier 1" wajib untuk monitoring deformasi dan structural alignment.

#6Asumsi semua drone bisa LiDAR

DJI Mavic 3 tidak bisa LiDAR — itu drone RGB. LiDAR butuh platform berat (Matrice 300/350, DJI Inspire 3 dengan modif, atau platform kustom) plus payload Zenmuse L2 / YellowScan / Phoenix. Jangan tertukar dengan drone photogrammetry biasa.

#7Lupa cek lisensi operator drone

Drone LiDAR komersial wajib piloted by remote pilot certified (RPC) dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Operasi di kawasan terlarang/restricted (sekitar bandara, instalasi militer) butuh izin AirNav tambahan. Pastikan operator vendor punya semua perizinan.

Bagian 7 · Best Practice

Hybrid Workflow — Cara Ambaja Mengerjakan Proyek Besar

Untuk proyek menengah hingga besar (≥ 10 ha), single tool jarang optimal. Workflow standard Ambaja menggabungkan tiga teknologi secara berurutan agar setiap alat dipakai di sweet spot-nya:

  1. 1
    Hari 1 — Pasang Control Point

    Surveyor lapangan menebar 6–15 Ground Control Point (GCP) menggunakan GPS RTK Trimble R12i atau CHC i90 Pro, mengacu ke benchmark resmi BIG (Badan Informasi Geospasial). Output: koordinat WGS84 + UTM Zona 48S, akurasi 1 cm.

  2. 2
    Hari 2–3 — Flight LiDAR

    Drone DJI Matrice 350 + Zenmuse L2 mengeksekusi mission planning grid pattern 80% sidelap. Altitude 80–100 m AGL untuk densitas 150 pts/m². Tim 2 orang (pilot + visual observer). Backup battery cukup untuk 4–5 sortie/hari.

  3. 3
    Hari 4 — Total Station Validation

    Operator Total Station Topcon GT-1200 mengukur 20–30 check-point di lokasi struktur kritis (pondasi planned, batas crucial, tugu BM). Data ini akan digunakan untuk independent QC validasi point cloud LiDAR.

  4. 4
    Hari 5–8 — Post-Processing

    Point cloud LAS diolah di TerraScan / LP360 — classification ground vs non-ground, noise filter, gap fill. DTM 0,25 m + DSM extraction. Kontur 0,5 m export ke DWG. Cross-check dengan Total Station check-points. RMSE biasanya 4–7 cm vertikal.

  5. 5
    Hari 9 — Deliverable

    Final delivery: point cloud LAS 1.4, DTM/DSM GeoTIFF, kontur DWG/SHP, ortofoto 5 cm/pixel, report PDF dengan koordinat GCP + check-points, dan video flythrough 3D. Single source of truth untuk semua disiplin downstream (arsitek, sipil, MEP).

Hasil hybrid workflow ini: akurasi sub-cm di titik kritis + densitas point cloud tinggi di seluruh area + waktu kerja lapangan 4 hari (bukan 30 hari kalau cuma pakai Total Station). Cost per-hektar di skala ini turun ke Rp 1 – 1,3 jt/ha all-in.

Verdict

TL;DR — Pilihan Singkat

Pilih Total Station

Bila akurasi sub-cm wajib, area ≤ 2 ha, lokasi tertutup gedung/vegetasi, atau pekerjaan as-built struktur & monitoring deformasi.

Pilih GPS RTK

Bila boundary survey 5–50 ha terbuka, stake-out cepat 1 orang, control point untuk LiDAR/photogrammetry, atau jalan desa & perumahan landed.

Pilih Drone LiDAR

Bila area ≥ 10 ha, vegetasi rapat, butuh kontur detail / DTM bersih, korridor infrastruktur panjang, atau deadline mendesak untuk pemetaan luas.

Rekomendasi Akhir

Jangan terjebak memilih satu alat untuk semua skenario. Tim Ambaja akan rekomendasikan kombinasi alat yang tepat berdasarkan brief proyek Anda — kirim luas area, koordinat pin, dan deliverable yang dibutuhkan via WhatsApp.

FAQ · 8 Pertanyaan

Pertanyaan Yang Sering Ditanyakan

Mana yang paling akurat — Total Station, GPS RTK, atau LiDAR?

Total Station paling akurat untuk pengukuran titik tunggal — toleransi 1–3 mm horizontal dan 1–2 mm vertikal. GPS RTK satu tingkat di bawahnya dengan akurasi 8 mm horizontal dan 15 mm vertikal. Drone LiDAR adalah yang terbawah dengan akurasi 2–5 cm horizontal dan 5–10 cm vertikal. Tapi 'akurasi' bukan satu-satunya kriteria — LiDAR mengumpulkan jutaan titik per hektar yang tidak bisa dijangkau dua alat lain. Jadi jawabannya tergantung apa yang Anda ukur dan butuh akurasi seberapa.

Kapan harus pakai Total Station, bukan GPS RTK?

Total Station wajib ketika: (1) akurasi sub-cm dibutuhkan, misalnya kolom gedung tinggi, jembatan, atau monitoring deformasi struktur; (2) lokasi tertutup vegetasi rapat atau ada bangunan multistory yang menghalangi sinyal satelit; (3) pekerjaan as-built berorientasi titik tunggal dengan jumlah titik <500 per hari; (4) site di dalam basement atau ruang tertutup. Untuk boundary survey terbuka di lahan 5+ hektar, GPS RTK lebih efisien.

Berapa biaya jasa survey topografi pakai Drone LiDAR per hektar?

Tarif jasa LiDAR di Jabodetabek bervariasi Rp 800rb – 1,5 jt per hektar, tergantung luas total, akses lokasi, dan kompleksitas vegetasi. Untuk area ≥10 hektar, LiDAR justru lebih hemat dibanding GPS RTK karena kecepatan kerja 10–50× lipat. Di Ambaja, paket LiDAR mulai Rp 1 jt/ha untuk area ≥10 ha dengan deliverable point cloud LAS, DTM/DSM, kontur 0,5 m, dan ortofoto 5 cm/pixel. Quote per project — hubungi WhatsApp untuk hitungan presisi sesuai lahan Anda.

Apakah Drone LiDAR bisa menembus daun pohon?

Sebagian besar — itulah keunggulan utama LiDAR. Pulse laser memantul tidak hanya dari permukaan teratas tapi juga dari titik lain di bawahnya (multi-return). Sensor LiDAR seperti DJI Zenmuse L2 atau YellowScan Mapper+ merekam 3–5 return per pulse, sehingga DTM (Digital Terrain Model — tanah asli) bisa dipisahkan dari DSM (Digital Surface Model — kanopi). Tingkat penetrasi tergantung densitas kanopi: hutan tropis lebat butuh densitas pulse lebih tinggi (≥300 pts/m²). Drone foto RGB biasa tidak bisa melakukan ini.

Boundary survey 10 hektar paling cepat pakai apa?

GPS RTK adalah pilihan tepat. Dengan rover GNSS seperti Trimble R12i atau Leica GS18, satu surveyor bisa menyelesaikan boundary 10 hektar dalam 1–2 hari, lengkap dengan titik patok dan koordinat georeferenced. Total Station butuh 4–5 hari untuk luas yang sama. LiDAR overkill kecuali Anda juga butuh kontur dan DTM detail. Tapi untuk boundary di bawah kanopi rapat atau di lahan kavling perumahan dalam kota, kombinasi Total Station + GPS sering lebih realistis.

Apakah ada teknologi keempat — drone photogrammetry?

Ya. Drone photogrammetry (UAV mapping dengan kamera RGB) menggunakan teknik Structure-from-Motion untuk merekonstruksi 3D dari ratusan foto overlap. Akurasi 3–7 cm, biaya alat jauh lebih murah dari LiDAR (drone DJI Mavic 3 Enterprise + GCP cukup), dan cocok untuk progress monitoring proyek konstruksi. Tapi photogrammetry tidak menembus vegetasi — hanya merekam permukaan teratas. Jadi untuk lahan kosong/terbuka, photogrammetry adalah kompetitor LiDAR; untuk lahan bervegetasi, LiDAR tetap unggul.

Apakah Ambaja menyediakan ketiga teknologi ini?

Ya — Ambaja melayani Total Station (Topcon GT series), GPS RTK (CHC i90 Pro, Trimble R12), dan Drone LiDAR (DJI Matrice 350 + Zenmuse L2) untuk seluruh Jabodetabek, Karawang, dan Cikarang. Tim surveyor terdaftar di ISI (Ikatan Surveyor Indonesia). Konsultasi pemilihan alat gratis — kirim lokasi pin Google Maps + brief proyek via WhatsApp, kami balas dengan rekomendasi alat dan estimasi biaya dalam 30 menit.

Jika butuh akurasi 1 cm di area 20 hektar dengan banyak pohon, alat apa yang dipakai?

Kombinasi. Pendekatan optimal: (1) tebar 8–12 GCP (Ground Control Point) pakai GPS RTK untuk geo-referencing global; (2) terbangkan Drone LiDAR untuk coverage 20 hektar (1–2 hari kerja); (3) pakai Total Station untuk check-point di lokasi kritis (pondasi, batas crucial). Dengan workflow ini Anda mendapat point cloud rapat, akurasi vertikal 3–5 cm relatif terhadap GCP, dan validasi sub-cm di titik-titik yang load-bearing. Single tool tidak akan optimal di kasus ini.

Pendalaman · Komparasi & Blog

Mau bandingkan LiDAR vs Photogrammetry atau baca studi kasus 3 era ukur tanah?

Panduan ini bahas dua metode utama. Untuk komparasi spesifik LiDAR vs Photogrammetry & sejarah teknik ukur, lanjut ke dua link berikut.

Bacaan Lanjutan
Butuh Konsultasi Alat?

Tim Ambaja Bantu Pilihkan Alat Yang Tepat.

Kirim brief proyek (luas area, lokasi pin, deliverable). Tim surveyor terdaftar ISI akan balas dalam 30 menit dengan rekomendasi alat + estimasi biaya per hektar.

Belum yakin? Lihat portofolio proyek scaffolding & ukur tanah Ambaja dulu

Kontak Langsung

WhatsApp / Phone
+62 822 2055 5035
Email
sales@ambaja.co.id
Jam Operasi Sales
WA Sales 24/7 · Lapangan Sen–Sab 08–17
Gudang
Jl. Masjid As-Surur No. 49A, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Jakarta Barat
WhatsApp